Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Bunda Alami Keguguran tetapi Tak Bisa Mendapatkan Bantuan Medis, Ternyata Ini Alasannya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 19 Jun 2026 18:30 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sedih
Kisah Bunda Alami Keguguran tetapi Tak Bisa Mendapatkan Bantuan Medis, Ternyata Ini Alasannya/ Foto: Getty Images/iStockphoto/PonyWang
Jakarta -

Seorang Bunda bernama Ashley Brown belum lama ini menuai sorotan publik. Brown membagikan kisah pilunya yang tidak mendapatkan bantuan medis meski sudah dinyatakan mengalami keguguran.

Melalui unggahan di media sosial, Brown mendokumentasikan pengalaman traumatisnya ini ke publik. Ia merasa kecewa karena tidak mendapatkan bantuan medis apa pun saat bayinya meninggal di dalam kandungan.

Dilansir People, Brown pertama kali mengumumkan bahwa ia mengalami keguguran keenamnya dalam sebuah video yang dibagikan pada tanggal 9 Juni 2026. Dalam video tersebut, dia menjelaskan bahwa baru-baru ini dia pergi ke dokter untuk pemeriksaan USG, saat usia kehamilannya enam minggu. Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa kehamilannya tidak dapat berlanjut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Brown lalu diberitahu untuk kembali dan melakukan dua kali kunjungan lanjutan serta menerima konseling. Rekomendasi tersebut diberikan sebelum dokternya secara hukum diizinkan untuk melakukan tindakan kuret, yaitu prosedur yang digunakan untuk mengangkat jaringan dari rahim setelah keguguran.

"Saya mengerti mengapa mereka menetapkan standar ini, [karena] sangat umum bagi seseorang untuk tidak mengetahui usia kehamilannya dan melihat kehamilan yang layak pada USG berikutnya. Namun, dalam kasus ini, hal itu mustahil," tulisnya dalam keterangan di video.

"Rasanya kejam merasakan kehamilan dan penderitaan selama tiga minggu lagi padahal tidak ada bayi. Kami sangat sedih atas kehilangan ini dan perawatan keguguran seharusnya tidak seperti ini," sambungnya.

Di unggahan pada 12 Juni, Brown kembali membagikan video kunjungannya ke dokter. Kali ini, ia mengeluhkan pelayanan yang diberikan untuk memproses keguguran.

"Bayi saya meninggal di dalam rahim hampir dua minggu yang lalu, tetapi kami harus memastikan dia benar-benar mati dua kali lagi sebelum mereka membantu saya mengeluarkannya karena tubuh saya tidak mau melakukannya sendiri," ujar Bunda tiga anak ini.

Dalam rekaman tersebut, Brown yang tampak emosional menceritakan bahwa kembali ke pusat medis untuk mengisi formulir pemeriksaan kehamilan seolah-olah itu hanya pemeriksaan kehamilan rutin adalah pengalaman yang 'sangat traumatis'. Padahal, ia tahu betul bahwa bayi di dalam kandungannya sudah meninggal.

"Perasaan saya berada di antara marah, trauma, berduka, dan mengatasinya dengan 'humor gelap'. Ini semua sangat salah," kata Brown.

Brown mengatakan bahwa ia berisiko mengalami sepsis karena 'dipaksa' untuk membawa janin yang sudah tidak bernyawa. Alih-alih menunggu, Brown pun memutuskan untuk mencari perawatan kuret di luar negara bagian.

"Saya berada di zona abu-abu di mana secara teknis usia kehamilan saya sudah lebih dari 6 minggu tetapi tidak dapat bertahan hidup dan tidak ada detak jantung," ungkap perempuan yang tinggal di Carolina Selatan, Amerika Serikat (AS ini.

Perlu diketahui, Carolina Selatan memberlakukan larangan aborsi di usia kehamilan enam minggu pada tahun 2023. Pengecualian berlaku dalam keadaan tertentu, termasuk kasus pemerkosaan atau inses, keadaan darurat medis yang mengancam nyawa ibu hamil, dan kelainan janin yang fatal.

Demikian kisah Bunda yang menceritakan pengalaman pilunya tidak mendapatkan bantuan medis saat mengalami keguguran.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda