Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

7 Risiko KB IUD yang Jarang Dibahas, Calon Pengguna Wajib Tahu Sebelum Pasang

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 20 Jun 2026 19:00 WIB

IUD
7 Risiko KB IUD yang Jarang Dibahas, Calon Pengguna Wajib Tahu Sebelum Pasang/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda berencana menggunakan KB IUD untuk mencegah kehamilan? Sebelum memilihnya sebagai alat kontrasepsi, Bunda perlu ketahui dulu risiko atau bahaya KB IUD ya.

Dilansir laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), intrauterine device (IUD) merupakan alat kontrasepsi berbentuk alat kecil dan fleksibel yang ditempatkan di dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Terdapat dua jenis KB IUD, yakni IUD hormonal dan non-hormonal.

"Kedua jenis kontrasepsi itu sangat efektif, dengan angka kehamilan kurang dari 1 per 100 pada tahun pertama penggunaan," kata WHO.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


IUD non-hormonal dapat mencegah kehamilan 10 hingga 12 tahun, tergantung pada produknya. Jenis IUD ini mencegah kehamilan dengan melepaskan ion tembaga yang mengganggu pergerakan sperma dan pembuahan sel telur

Sedangkan IUD hormonal bisa bertahan selama 3 hingga 8 tahun, tergantung jenisnya. IUD hormonal melepaskan sejumlah kecil levonorgestrel, yang dapat mengentalkan lendir serviks, menghambat sperma, dan menipiskan lapisan rahim. IUD hormonal sangat efektif sebagai kontrasepsi berkelanjutan.

Pemasangan KB IUD

Pemasangan IUD harus dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional, seperti dokter kandungan. Sebelum IUD ditempatkan di dalam rahim, Bunda mesti menjalani pemeriksaan termasuk mendiskusikan riwayat kesehatan dengan dokter dan menjalani tes kehamilan.

Menurut ulasan di laman American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), IUD dapat dipasang kapan saja selama siklus menstruasi, asalkan Bunda cukup yakin tidak hamil dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.

Jika memasang IUD hormonal lebih dari 7 hari setelah dimulainya menstruasi, maka Bunda harus menghindari hubungan seksual melalui vagina atau menggunakan metode kontrasepsi cadangan, seperti kondom, selama 7 hari berikutnya. Jika kurang dari 7 hari sejak dimulainya menstruasi, maka Bunda tidak perlu menggunakan metode cadangan.

Risiko KB IUD

Ada beberapa efek samping atau risiko kesehatan dari penggunaan KB IUD. Berikut penjelasannya:

  1. Beberapa perempuan yang menggunakan IUD non-hormonal mungkin mengalami menstruasi yang lebih berat atau lebih lama dan kram yang lebih kuat, terutama dalam beberapa bulan pertama.
  2. KB IUD hormonal dapat menyebabkan menstruasi yang lebih ringan atau tidak ada pendarahan sama sekali setelah beberapa bulan penggunaan. Perubahan ini tidak berbahaya tetapi dapat menyebabkan beberapa perempuan menghentikan penggunaan metode ini.
  3. Efek samping setelah penggunaan KB IUD dapat meliputi sakit kepala, mual, nyeri payudara, dan perubahan suasana hati.
  4. Dalam sejumlah kecil kasus, IUD dapat keluar dari rahim. Seluruh IUD dapat keluar, atau hanya sebagian saja. Risikonya lebih tinggi pada perempuan dengan pendarahan menstruasi yang berat, dan mereka yang memasang IUD segera setelah melahirkan. Jika IUD keluar, IUD tersebut tidak lagi efektif.
  5. Alat kontrasepsi IUD dapat menembus dinding rahim selama pemasangan. Hal ini biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan serius, tetapi IUD perlu dilepas. Kejadian ini jarang terjadi, hanya sekitar 1 dari setiap 1.000 pemasangan.
  6. Penyakit radang panggul setelah pemasangan IUD sangat jarang terjadi. Penggunaan IUD sendiri tidak meningkatkan risiko PID. Perempuan dengan infeksi menular seksual (IMS) yang belum terdiagnosis pada saat pemasangan IUD lebih mungkin mengembangkan penyakit radang panggul daripada mereka yang tanpa IMS.
  7. Dalam kasus yang jarang terjadi, jika kehamilan terjadi saat IUD masih terpasang, ada kemungkinan lebih tinggi bahwa itu adalah kehamilan ektopik. Ini adalah kondisi serius yang membutuhkan perhatian medis.

Kapan harus ke dokter?

Ada beberapa gejala yang bisa menjadi tanda adanya masalah dengan KB IUD. Jika mengalami gejala-gejala tersebut, Bunda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Berikut gejala-gejalanya:

  • Nyeri panggul parah
  • Demam yang tidak dapat dijelaskan
  • Keputihan yang tidak biasa
  • Meraba IUD di leher rahim atau vagina
  • Muncul tanda-tanda kehamilan, termasuk testpack positif.

Demikian risiko atau bahaya KB IUD yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda