Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Hamil di Usia Lanjut Tahun Lewat IVF, Bunda Ini Sedih Kerap Dikira Nenek dari Putranya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Minggu, 21 Jun 2026 12:30 WIB

Ilustrasi bayi dan nenek
Hamil di Usia Lanjut Tahun Lewat IVF, Bunda Ini Sedih Kerap Dikira Nenek dari Putranya/Foto: Getty Images/iStockphoto/miodrag ignjatovic
Daftar Isi
Jakarta -

Berhasil mendapatkan kehamilan di usia yang tak lagi muda memang membawa kebahagiaan tetapi di satu sisi menjadi beban tertentu jika terlalu jauh jarak usia anak dan orang tuanya. Seperti kisah hamil di usia 53 tahun lewat IVF, Bunda ini sedih kerap dikira nenek dari putranya.

Bagi sebagian perempuan, mendapatkan kehamilan memang tak selalu mudah. Ada juga beberapa perempuan yang membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan kehamilan mereka. Bahkan, dengan segenap upaya yang dilakukan pun, kehamilan tak jarang belum didapatkan. Sementara, usia senantiasa berjalan dan kehamilan yang didapatkan justru di usia senja. 

Hal inilah yang dialami seorang Bunda bernama Monica Kranner yang juga seorang ahli gizi yang berbasis di London. Ia saat ini memiliki anak berusia 2.5 tahun ketika dirinya berusia 56 tahun dan suami berusia 60 tahun. Tentu saja bukan hal mudah bagi mereka melewati pertanyaan dan sorotan dari orang-orang sekelilingnya mengenai keberadaan anaknya yang kerap dikira cucunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kondisi tersebut telah dialaminya sejak ia hamil lho, Bunda. Misalnya saja ketika ia ke dokter gigi, dan ia harus menulis di formulir konsultasi bahwa dirinya sedang hamil dan membuat resepsionis terkejut.

"Salah satu yang benar-benar menyakitkan ialah saat makan malam keluarga di momen Natal. Ketika pelayan memuji kami karena menghabiskan waktu berkualitas bersama cucu kami,"ceritanya seperti dikutip dari laman Business Insider.

Ya, anggapan bahwa kakek nenek dari anaknya memang hampir terjadi setiap kali mereka pergi keluar, Bun. Baik itu ke taman, toddler group, atau bahkan saat mereka berbelanja. 

Menghadapi hal tersebut memang tak selalu menyenangkan ya, Bunda. Terkadang, pasangan tersebut bisa menghadapinya dengna tenang. Tetapi, di lain waktu bisa sangat menyakitkan bahwa orang-orang hanya membuat asumsi tanpa mengetahui faktanya bahwa mereka menunggu begitu lama untuk memiliki anak.

Akhirnya harus berbagi kisah menyakitkan dengan orang asing

Berbagi kisah pribadi bagi mereka menjadi hal yang sangat menyakitkan, apalagi terhadap orang asing. Kenyataannya, hal itu harus dilakukan untuk menjelaskan bahwa anak yang selalu menyertai mereka bukanlah cucunya melainkan anaknya.

Kisah pun harus diceritakan ketika dirinya mencoba hamil sejak usia 39 tahun dan telah tujuh kali keguguran yang menyedihkan dialaminya. 

"Putra kami adalah keajaiban yang ditunggu selama lebih dari 14 tahun. Berbagi ini dengan orang asing bukanlah hal mudah, tetapi kami merasa perlu melakukannya,"katanya.

Alasan lain perlunya menjelaskan kondisi sesungguhnya yakni karena dari kacamata anaknya, yang dilihat hanyalah dua orang tua yang sangat mencintainya. Dia tidak melihat usia orang tuanya, tetapi ia pun khawatir bahwa hal tersebut bisa terjadi ketika anaknya mulai sekolah.

"Saya tidak ingin teman-temannya menghakiminya dan mengolok-ngoloknya karena memiliki orang tua yang lebih tua. Itulah salah satu alasan sebenarnya berpikir mengapa ia mendidiknya di rumah, guna melindunginya dari perundungan,"tegasnya.

Memiliki anak di usia lanjut, kesehatan menjadi prioritas

Memiliki anak kecil di usia lanjut bukanlah hal yang mudah dilalui. Apalagi, kesehatan pun semakin menurun dan hal itu tidak boleh dianggap remah sedikit pun. 

"Saya telah menjadi ahli gizi selama lebih dari 20 tahun, melayani klien di London, tempat kami tinggal: Wina, tempat asal saya; dan Los Angeles."

Meskipun pada akhirnya dirinya sukses hamil melalui IVF, ia sangat yakin bahwa nutrisi memainkan peran penting dalam membantu dirinya hamil di usia 53 tahun. Dan, ia melewati menopause ketika dirinya mulai mengalami hot flashes pada usia 55 tahun yang tertunda karena hormon IVF.

"Sekarang, nutrisi yang membuat saya cukup bugar untuk menyamai tingkat energi putra saya. Ini juga bukan hanya tentang saat ini semata. Saya dan suami tentunya ingin hidup selama mungkin untuk berada di sini bagi putra kami. Itulah alasan mengapa kami ingin menjaga kesehatan kami," ungkapnya.

Menyoal gaya hidup yang dijalaninya, ia mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya memang menjalani pola hidup sehat termasuk dengan  mengonsumsi makanan organik sepenuhnya.

"Saya memasak makanan segar di rumah sesering mungkin. Saya memastikan setiap makanan mengandung protein, sayuran, dan roti gandum. Makanan khas untuk putra saya ialah telur rebus dengan kefir, minuman susu fermentasi, beberapa sayuran rebus yang diiris, alpukat, dan keripik pisang serta roti gandum sebagai pelengkap," bebernya.

Menikmati waktu bersama putranya

Memiliki usia yang tak lagi muda, tentunya ia dan suaminya sangat memikirkan bagaimana keduanya bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dengan waktu bersama putranya. Sebab, penting bagi dirinya untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan putranya sambil tetap menjalankan bisnisnya.

"Saya mundur dari bisnis saya ketika putra saya lahir, hanya bertemu klien ketika mereka menghubungi saya. Saya juga tak melakukan pemasaran proaktif lagi sampai tahun ini. Sementara, suami saya menjalankan agensi periklanan kecilnya sendiri. Jadi, ia memiliki fleksibilitas untuk turun tangan dan mengurus putranya jika diperlukan. Dan, kami juga memiliki pengasuh. Pengasuh kami datang setengah hari dan saya mengurus Lewis (putranya-red)  setengah hari berikutnya,"jelasnya.

Meski cukup sibuk dan lelah, ia sangat menikmati kebersamaan dengan putranya. Selain membawanya ke berbagai kegiatan bersamanya, ia juga kerap menemani putranya dalam berbagai momen termasuk menemaninya tidur. Saat tidur siang, ia pun mencoba berbaring bersamanya untuk beristirahat dan berada di dekatnya. 

Dengan semua yang dilakukannya tersebut, tentunya sungguh sangat menyebalkan ketika banyak orang menganggap bahwa putranya dianggap cucunya. Tentu saja komentar tersebut membuat dirinya sensitif. 

"Kalian tidak tahu apa yang telah dialami orang lain. Bukan urusan siapa pun sebenarnya terkait berapa usia kami. Kami melakukan yang terbaik untuk putra kami, dan itulah yang terpenting," pungkasnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda