Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Bunda Jalani Kehamilan yang Traumatis usai Didiagnosis Plasenta Akreta

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 16 Jun 2026 18:00 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sedih
Kisah Bunda Jalani Kehamilan yang Traumatis Usai Didiagnosis Plasenta Akreta/ Foto: Getty Images/iStockphoto/RyanKing999
Daftar Isi
Jakarta -

Kehamilan umumnya menjadi momen yang penuh harapan dan kebahagiaan bagi seorang perempuan. Namun, tidak semua perjalanan menuju kelahiran berjalan mulus.

Seorang Bunda bernama Lauren Farrelly mesti menjalani kehamilan kedua yang traumatis usai didiagnosis mengidap plasenta akreta. Dokter mendiagnosisnya saat usia kehamilan 31 minggu.

"Itu sangat traumatis karena suatu hari saya sedang bekerja dan semuanya baik-baik saja, lalu keesokan harinya kami mengemasi barang-barang dan pindah ke Southampton (untuk menjalani perawatan)," kata Farrelly, dilansir People.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Setelah didiagnosis plasenta akreta, dokter mengharuskannya untuk menjalani persalinan diri dan operasi besar. Anak keduanya yang diberi nama Nico lahir lima minggu lebih awal. Farrelly setidaknya menjalani operasi selama delapan jam untuk melahirkan putranya di Southampton Hospital, Inggris.

Pengalaman kehamilan kedua ini dianggap begitu traumatis bagi Farrelly. Pasalnya, ketika Farrelly melahirkan anak pertamanya yang bernama Thea, ia menjalani persalinan caesar dan tidak mengalami komplikasi apa pun.

Apa itu plasenta akreta?

Plasenta akreta merupakan salah satu komplikasi kehamilan berisiko tinggi, Bunda. Dikutip dari Baby Center, plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim.

"Plasenta adalah organ berbentuk pipih yang terbentuk selama kehamilan, yang menempel pada dinding rahim dan terhubung ke bayi melalui tali pusar. Plasenta membantu mengantarkan nutrisi ke bayi," kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Layan Alrahmani, MD.

"Beberapa menit setelah melahirkan bayi, plasenta biasanya akan terlepas dari dinding rahim dan ikut keluar. Namun, jika seorang perempuan mengalami plasenta akreta, maka plasentanya tetap menempel pada dinding rahim. Hal tersebut dapat menyebabkan pendarahan hebat," sambungnya.

Plasenta akreta menjadi komplikasi yang lebih umum terjadi seiring dengan meningkatnya angka operasi caesar selama 30 tahun terakhir. Riwayat operasi caesar sebelumnya juga merupakan salah satu faktor risiko plasenta akreta, Bunda.

Tanda dan gejala plasenta akreta

Plasenta akreta seringkali tidak menimbulkan gejala. Tak heran bila Bunda Farrelly tidak mengetahui kondisi ini sampai memeriksakannya ke dokter.

Dalam beberapa kasus, dokter dapat melihat tanda-tandanya dalam pemeriksaan USG. Selain itu, munculnya perdarahan vagina selama trimester ketiga juga dapat menjadi tanda peringatan.

"Jika dokter mencurigai perempuan mengalami plasenta akreta, USG atau MRI mungkin akan dilakukan untuk mencoba melihat bagaimana posisi plasenta di dinding rahim," ungkap Alrahmani.

Faktor risiko plasenta akreta

Penyebab spesifik plasenta akreta masih belum diketahui, Bunda. Namun, ada beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan komplikasi kehamilan ini, seperti:

  • Riwayat operasi caesar atau operasi rahim
  • Riwayat plasenta previa
  • Jumlah kelahiran yang pernah dijalani
  • Kondisi rahim tertentu, seperti fibroid rahim
  • Kebiasaan merokok
  • Faktor usia, lebih umum terjadi pada perempuan 35 tahun ke atas
  • Menjalani prosedur infertilitas, seperti transfer embrio.

Penanganan kehamilan dengan plasenta akreta

Jika plasenta akreta terjadi, dokter mungkin akan menjadwalkan operasi caesar, diikuti dengan pengangkatan rahim beserta plasenta yang masih menempel. Tindakan itu disebut histerektomi caesar.

Plasenta akreta dapat menjadi masalah jika perempuan mengalami persalinan prematur. Oleh karena itu, operasi caesar mungkin perlu dijadwalkan sedini mungkin, yaitu pada minggu ke-34, untuk menghindari persalinan darurat yang tidak direncanakan.

Demikian kisah Bunda yang didiagnosis plasenta akreta dan sempat mengalami trauma menjalani kehamilan keduanya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda