Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Beragam Risiko yang Mengintai bila Ibu Hamil Alami Stres

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Sabtu, 13 Jun 2026 12:00 WIB

Ilustrasi Ibu dan Anak/ Ibu Hamil Stres
Risiko yang Mengintai bila Ibu Hamil Stres/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Nuttawan Jayawan
Daftar Isi

Kehamilan merupakan masa yang penuh perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Wajar jika Bunda sesekali merasa cemas, khawatir, atau tertekan. Namun, jika stres terjadi terus-menerus dan tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan Bunda maupun janin.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), stres berkepanjangan selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan bayi dalam kandungan. Hormon stres yang meningkat secara terus-menerus dapat memengaruhi fungsi tubuh, kualitas tidur, hingga pertumbuhan janin.

Mengapa ibu hamil lebih mudah mengalami stres?

Selama kehamilan, Bunda mengalami banyak perubahan yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Perubahan fisik, hormonal, emosional, hingga sosial dapat membuat ibu hamil lebih rentan mengalami stres dibandingkan sebelum hamil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berikut beberapa penyebabnya:

1. Perubahan hormon yang memengaruhi emosi

Saat hamil, kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat drastis. Perubahan hormon ini dapat memengaruhi zat kimia di otak yang mengatur suasana hati, sehingga Bunda mungkin menjadi lebih sensitif, mudah cemas, mudah tersinggung, atau lebih sering menangis. Kondisi ini merupakan hal yang normal, terutama pada trimester pertama dan ketiga.

2. Kekhawatiran tentang kondisi janin

Banyak ibu hamil merasa khawatir apakah janinnya tumbuh dengan baik, apakah hasil pemeriksaan normal, atau apakah bayi akan lahir sehat. Kekhawatiran ini sering muncul terutama pada kehamilan pertama atau pada ibu yang pernah mengalami keguguran sebelumnya.

3. Ketakutan menghadapi persalinan

Menjelang hari kelahiran, sebagian Bunda mulai memikirkan proses persalinan, rasa sakit saat melahirkan, kemungkinan operasi caesar, hingga keselamatan diri dan bayi. Ketidakpastian tersebut dapat memicu kecemasan dan stres.

4. Perubahan fisik yang signifikan

Pertambahan berat badan, perubahan bentuk tubuh, nyeri punggung, mual, mudah lelah, hingga gangguan tidur dapat memengaruhi kenyamanan sehari-hari. Bila berlangsung terus-menerus, keluhan fisik ini dapat membuat ibu hamil merasa tertekan secara emosional.

5. Tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian

Sebagian ibu hamil tetap harus bekerja, mengurus rumah tangga, atau merawat anak yang lebih besar. Menyeimbangkan berbagai tanggung jawab tersebut sambil menghadapi perubahan tubuh selama kehamilan bisa menjadi sumber stres tersendiri.

6. Masalah keuangan dan persiapan menyambut bayi

Biaya pemeriksaan kehamilan, persalinan, perlengkapan bayi, hingga kebutuhan setelah melahirkan sering menjadi kekhawatiran bagi calon orang tua. Tekanan finansial diketahui menjadi salah satu pemicu stres yang cukup umum selama kehamilan.

7. Kurangnya dukungan sosial

Ibu hamil yang merasa kurang mendapat dukungan dari pasangan, keluarga, atau lingkungan sekitar cenderung lebih rentan mengalami stres. Sebaliknya, dukungan emosional yang baik dapat membantu Bunda merasa lebih tenang dan percaya diri menjalani kehamilan.

8. Riwayat gangguan kecemasan atau depresi

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Women's Mental Health, perempuan yang memiliki riwayat kecemasan, depresi, atau mengalami stres berat sebelum hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan.

Risiko yang mengintai bila ibu hamil mengalami stres

Simak ulasan selengkapnya:

1. Tekanan darah tinggi saat kehamilan

Stres kronis dapat meningkatkan produksi hormon kortisol dan adrenalin yang membuat tekanan darah naik. Jika tidak terkontrol, kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipertensi dalam kehamilan hingga preeklamsia.

Preeklamsia merupakan komplikasi serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan dapat membahayakan ibu maupun janin.

2. Gangguan tidur

Bunda yang mengalami stres sering kali sulit tidur atau mengalami kualitas tidur yang buruk. Padahal, tidur yang cukup sangat penting untuk mendukung perkembangan janin dan menjaga kesehatan tubuh selama kehamilan.

Kurang tidur juga dapat memperparah rasa lelah, meningkatkan emosi negatif, dan menurunkan daya tahan tubuh.

3. Risiko kelahiran prematur

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres berat selama kehamilan berkaitan dengan meningkatnya risiko persalinan prematur, yaitu kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi yang lahir prematur lebih rentan mengalami gangguan pernapasan, kesulitan makan, hingga masalah kesehatan jangka panjang.

4. Berat badan lahir rendah (BBLR)

Stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi aliran darah ke plasenta sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke janin menjadi kurang optimal. Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah atau mengalami hambatan pertumbuhan dalam kandungan.

5. Meningkatkan risiko depresi selama dan setelah melahirkan

Ibu hamil yang mengalami stres berkepanjangan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi antenatal (saat hamil), maupun depresi pascapersalinan (postpartum depression). Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam merawat diri sendiri maupun bayi setelah lahir.

6. Memengaruhi perkembangan otak janin

Beberapa studi menunjukkan bahwa paparan stres berat selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf janin.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience menyebutkan bahwa kadar hormon stres yang tinggi selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan emosional atau perilaku di kemudian hari.

7. Menurunkan nafsu makan dan kesehatan Ibu

Saat stres, sebagian ibu hamil menjadi kehilangan nafsu makan, sementara sebagian lainnya justru makan berlebihan. Kedua kondisi tersebut dapat mengganggu keseimbangan nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan pertumbuhan janin.

Kapan bunda perlu mencari bantuan?

Segera konsultasikan dengan dokter atau psikolog jika Bunda mengalami:

  • Stres yang berlangsung lebih dari dua minggu
  • Sulit tidur hampir setiap hari
  • Merasa cemas berlebihan
  • Kehilangan minat melakukan aktivitas sehari-hari
  • Mudah menangis tanpa sebab yang jelas
  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin baik pula dampaknya bagi kesehatan ibu dan janin.

Cara mengurangi stres selama kehamilan

Untuk membantu mengelola stres, Bunda dapat mencoba beberapa cara berikut:

  • Tidur cukup setiap hari
  • Melakukan olahraga ringan yang aman untuk ibu hamil
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Berbagi cerita dengan pasangan atau keluarga
  • Mengikuti kelas ibu hamil
  • Melakukan relaksasi, meditasi, atau latihan pernapasan
  • Membatasi paparan informasi yang memicu kecemasan.

Merasa cemas atau stres sesekali selama kehamilan merupakan hal yang wajar. Namun, penting untuk mengenali kapan stres mulai mengganggu kesehatan fisik, emosional, maupun aktivitas sehari-hari. Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan dari orang-orang terdekat, Bunda dapat menjalani masa kehamilan dengan lebih nyaman dan tenang.

Tak kalah penting, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional bila stres mulai terasa berlebihan atau sulit dikendalikan. Ingat ya, menjaga kesehatan mental selama kehamilan sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Saat Bunda merasa lebih bahagia dan rileks, kondisi tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi tumbuh kembang Si Kecil di dalam kandungan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda