kehamilan
Penelitian Ungkap Ibu Hamil Bisa 'Menularkan' Kondisi Ini ke Janin
HaiBunda
Sabtu, 16 May 2026 15:40 WIB
Kehamilan ternyata juga membawa risiko tertentu baik secara positif atau negatif bagi janin. Sebab, penelitian ungkap ibu hamil bisa menularkan kondisi ini ke janin.
Keberadaan janin di dalam perut ibu selama kehamilan memang sangat bergantung pada ibunya. Apa yang ibu hamil makan tentunya itulah nutrisi yang dikonsumsi janin di dalam perut juga. Sehingga, ada risiko-risiko yang mungkin bisa dialami janin mengingat apa yang ibu lakukan dan konsumsi juga dapat berimbas pada janin.
Seperti pada sebuah penelitian terbaru ditemukan bahwa menguapnya ibu hamil ternyata juga menular dan itu dimulai dari dalam rahim, Bun. Ya, seperti diketahui bahwa melihat seseorang menguap tepat di depan kita sering membuat kita secara naluriah melakukan hal yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan, hal ini sering dikaitkan dengan koneksi sosial dan emosional serta pencerminan otak, di mana kita secara otomatis menyelaraskan dan menstimulasikan emosi dan tindakan orang-orang di sekitar kita. Dalam sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan di Current Biology menemukan bahwa perilaku ini dimulai bahkan sebelum lahir.
Para peneliti merekam ekspresi wajah perempuan hamil sementara mesin ultrasound menangkap gambar wajah janin mereka secara real-time. Dengan membandingkan kedua rekaman tersebut, para peneliti mengamati bahwa janin lebih cenderung menguap setelah ibu mereka menguap, dengan jeda sekitar 90 detik seperti dikutip dari laman Medical Express.
Melacak sinkronisasi menguap ibu dan janin
Menguap pada manusia dimulai jauh lebih awal daripada yang disadari kebanyakan orang. Sementara, janin mulai menguap di dalam rahim sekitar usia 11 minggu.Â
Karena tidak ada udara yang dapat dihirup janin, selama menguap, janin perlahan membuka mulut mereka dan melakukan gerakan yang menyerupai bernapas masuk dan keluar. Kemudian, dengan lembut mereka menutup mulut mereka lagi.Â
Untuk waktu yang lama, para ilmuwan percaya bahwa menguap janin dianggap murni didorong oleh proses biologis internal, tetapi tidak ada cukup bukti untuk membuktikannya benar atau salah.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti ingin melihat apakah janin di dalam rahim akan tertular menguap dari ibu mereka atau tidak. Untuk itu, mereka melibatkan 38 perempuan hamil yang berada di antara usia kehamilan 28 dan 32 minggu di mana semuanya dengan kehamilan yang sehat dan tanpa komplikasi.
Eksperimen tersebut melibatkan para ibu yang menonton tiga jenis video berbeda di ruangan yang tenang. Adapun video yang dilihat yakni video menguap, video gerakan mulut, dan video wajah diam. Sementara kamera video memantau wajah ibu, para peneliti juga menggunakan mesin USG 2D untuk memberikan tampilan real time dari hidung dan bibir janin.
Tiga ahli, yang tidak tahu apa yang ditonton ibu, meninjau rekaman yang dikumpulkan dan memverifikasi menguapnya. Para peneliti menggunakan alat AI yang disebut DeepLabCut untuk melacak secara tepat gerakan bibir dan hidung yang halus, kemudian melatih jaringan saraf untuk melihat apakah menguapnya ibu mencerminkan pola gerakan janinnya.
Dari sana, peneliti menemukan bahwa bahwa menguapnya janin meningkat secara signifikan hanya ketika ibu menguap, bukan ketika ia hanya membuka dan menutup mulutnya atau membiarkan wajahnya diam.
Para peneliti menyebut bahwa fenomena tersebut sebagai penularan perilaku prenatal. Menguapnya janin juga tidak acak. Mereka biasanya muncul sekitar 90 detik setelah ibu menguap, yang mirip dengan waktu respons yang terlihat pada penularan menguap pada orang dewasa.
Temuan ini menunjukkan bahwa menguap janin mungkin merupakan bagian dari hubungan awal ibu-bayi, di mana perilaku ibu dapat memengaruhi bagaimana janin merespons. Penelitian lebih lanjut tentang seberapa dalam hubungan perilaku ini bekerja, dan apakah hal itu memiliki efek perkembangan jangka panjang, dapat membentuk kembali perawatan prenatal.
Menguap dan indikasi berat badan lahir rendah pada janin
Mengutip dari laman News Medical, dalam penelitian lainnya yang dipublikasi di Jurnal PLOS One oleh Damiano Menin dari Universitas degli Studi di Ferrara di Italia dan rekan-rekannya pada Februari 2026 menemukan bahwa di dalam rahim, tempat semua oksigen disediakan oleh plasenta orang tua, janin memang dapat dan bisa menguap.
Lebih banyak menguap selama pengamatan dikaitkan dengan berat badan lahir yang rendah yang berpotensi menunjukkan stres janin ringan di dalam rahim, berdasarkan temuan studi tersebut.
Menguap merupakan perilaku yang ditemukan di seluruh vertebrata, dan tidak ada yang benar-benar tahu mengapa. Pada manusia, janin menguap di dalam rahim sejak sekitar usia 11 minggu. Meskipun tidak ada udara untuk bernapas, mereka perlahan membuka mulut mereka, melakukan gerakan yang mirip dengan menghirup dan menghembuskan napas, dan menutup mulut mereka lagi.
Untuk memahami lebih lanjut tentang menguap pada janin, para penulis studi ini menggunakan USG untuk mengamati 32 janin sehat (56 persen perempuan, 44 persen laki-laki) antara usia kehamilan 23 dan 31 minggu. Kemudian, dari setiap janin diamati selama 22,5 menit.
Dari pengamatan tersebut, para penulis menemukan bahwa janin menguap antara nol hingga enam kali selama periode pengamatan, dengan rata-rata 3,63 kali menguap per jam. Mereka juga menunjukkan bahwa janin yang lebih sering menguap selama pengamatan lebih cenderung memiliki berat badan rendah saat lahir, yang dianggap sebagai indikator gangguan ringan, meskipun semua janin dalam penelitian ini lahir sehat.
Para peneliti tidak melakukan manipulasi apa pun untuk melihat apakah mereka dapat memengaruhi menguap janin, dan juga tidak mencatat pengukuran seperti detak jantung janin atau suhu ibu, yang berpotensi terkait dengan perilaku tersebut.Â
Selain itu, tidak ada kehamilan berisiko tinggi yang diamati para penulis. Berdasarkan penelitian mereka, para penulis menyarankan bahwa seringnya janin menguap mungkin merupakan tanda stres ringan pada janin yang sehat.
"Kami menemukan bahwa frekuensi menguap di dalam rahim berhubungan negatif dengan berat lahir, berpotensi menunjukkan respons terkait stres pada janin yang sehat. Ini menunjukkan bahwa bahkan sebelum lahir, menguap dapat berfungsi sebagai indikator kesejahteraan janin," kata para penulis.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Kapan Jenis Kelamin Janin dalam Kandungan Terbentuk?
Kehamilan
Hamil Tapi Kok Perut Belum Kelihatan Buncit?
Kehamilan
Ketahui Berbagai Risiko Omicron pada Ibu Hamil, Tetap Jaga Kesehatan ya Bun
Kehamilan
Kehamilan Minggu ke-5: Kantong Janin Sudah Terlihat dan Bunda Mulai Ngidam Nih!
Kehamilan
4 Tips Memilih Musik yang Disukai Bayi dalam Kandungan, Bumil Harus Tahu
5 Foto
Kehamilan
5 Potret Kebahagiaan Anggika Bolsterli Jalani Kehamilan Pertama
HIGHLIGHT
ADVERTISEMENT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Stres Selama Hamil Pengaruhi Metabolisme, Dampaknya Bisa Dirasakan Janin Bun
Deretan Artis Alami Masalah Kesehatan di Awal Kehamilan, Terbaru Shenina Cinnamon
Apakah Ibu Hamil Penderita Asma Bisa Melahirkan Pervaginam?