Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Apakah Gejala Superfetation Dapat Dikenali? Simak Penjelasannya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Rabu, 20 May 2026 16:30 WIB

Mengatasi mual ibu hamil
Apakah Gejala Superfetation Dapat Dikenali? Simak Penjelasannya/Foto: Getty Images/Liudmila Chernetska
Daftar Isi
Jakarta -

Meski tak banyak terjadi, kehamilan bisa terjadi lagi saat seorang perempuan sedang hamil yang dinamakan superfetation. Bunda, kenali gejala superfetation, hamil lagi saat ibu sedang berbadan dua.

Superfetation memang menjadi fenomena langka yakni kondisi saat kehamilan kedua terjadi bersamaan dengan kehamilan yang sudah ada. Kondisi seperti ini memang jarang terjadi pada manusia dan jauh lebih sering diamati pada hewan.

Ya, superfetation memang umum terjadi pada spesies hewan seperti ikan, kelinci, dan luwak. Sementara itu, pada manusia memang masih dianggap sangat jarang. Pada manusia, sebagian besar kasus terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan IVF.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengenal apa itu superfetation

Proses superfetation sebenarnya sama halnya dengan proses kehamilan pada umumnya. Pada manusia, kehamilan terjadi ketika sel telur dibuahi seperma. Kemudian sel telur yang dibuahi tersebut menanamkan dirinya di rahim. Agar superfetation terjadi, sel telur lain yang sama sekali berbeda perlu dibuahi dan kemudian ditanamkan secara terpisah di rahim.

Superfetation merupakan kejadian yang sangat langka. Kondisi ini terjadi ketika sel telur dibuahi, dan embrio yang dihasilkan menempel selama kehamilan yang sedang berlangsung, kata Sasha Andrews, MD, seorang seorang spesialis kedokteran maternal-fetal bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Denver.

Dalam kebanyakan kasus superfetation, terdapat perbedaan usia kehamilan embrio selama dua hingga empat minggu, seperti dikutip dari laman The Bump.

Superfetation vs hamil kembar

Kehamilan superfetation berbeda dengan kehamilan kembar karena waktu pembuahan. Pada kehamilan kembar, kedua sel telur dibuahi pada waktu yang bersamaan, sedangkan pada superfetation, terdapat kedua sel telur dibuahi pada waktu yang bersamaan, baik dari sel telur yang dibuahi yang membelah (kembar identik) atau dari dua sel telur yang dibuahi sekaligus (kembar fraternal).”

Kenali gejala hamil superfetation

Mengingat superfetation sangat jarang terjadi, tidak ada gejala spesifik yang terkait dengan kondisi ini. Superfetation dapat dicurigai ketika dokter memperhatikan bahwa janin kembar tumbuh dengan kecepatan yang berbeda di dalam rahim. Selama pemeriksaan USG, dokter akan melihat bahwa kedua janin memiliki ukuran yang berbeda. Ini disebut diskordansi pertumbuhan seperti dikutip dari laman Healthline.

Namun, dokter mungkin tidak akan mendiagnosis seorang perempuan dengan superfetation setelah melihat bahwa bayi kembar tersebut berbeda ukuran. Hal ini karena ada beberapa penjelasan yang lebih umum untuk diskordansi pertumbuhan. Salah satu contohnya adalah ketika plasenta tidak mampu menopang kedua janin secara memadai (insufisiensi plasenta).

Risiko komplikasi dari kehamilan superfetation

Mengalami kehamilan superfetation memang tidak berarti bebas risiko ya, Bunda. Salah satunya, ada komplikasi terpenting yang mungkin dialami dari superfetation ini yakni bahwa bayi-bayi tersebut akan tumbuh pada tahap yang berbeda selama kehamilan. 

Ketika satu bayi siap untuk dilahirkan, janin lainnya mungkin belum siap. Bayi yang lebih muda akan berisiko lahir prematur. Sementara, kehamilan prematur dapat meningkatkan risiko bayi mengalami masalah medis seperti kesulitan bernapas, berat badan lahir rendah, masalah gerakan dan koordinasi, kesulitan menyusui, perdarahan otak, dan lainnya.

Selain itu, perempuan yang mengandung lebih dari satu bayi berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi tertentu termasuk tekanan darah tinggi dan protein dalam urine, diabetes gestasional, dan lainnya. Dalam hal ini, bayi mungkin perlu dilahirkan melalui operasi caesar yang mana pelaksanaan operasi tersebut bisa bergantung pada perbedaan perkembangan kedua bayi.

Cara pencegahan superfetation

Kondisi superfetation sedianya bisa dicegah dengan tidak melakukan hubungan intim setelah hamil. Namun, superfetation memang sangat jarang terjadi sehingga sangat kecil kemungkinannya seseorang akan hamil untuk kedua kalinya jika melakukan hubungan intim setelah hamil.

Dari sedikit kasus superfetation potensial yang dilaporkan dalam literatur medis, sebagian besar terjadi pada perempuan di bawah usia kehamilan tertentu. Pastikan untuk menjalani tes guna memastikan Bunda tidak hamil sebelum menjalani perawatan ini. Dan, ikuti semua prosedur serta rekomendasi dokter jika menjalani IVF, termasuk periode pantang tertentu.

Itulah serba serbi mengenai superfetation ya, Bunda. Meski menjadi kasus yang jarang terjadi, risiko tersebut tetap perlu diwaspadai selama kehamilan. Semoga informasinya membantu, ya Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

 

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda