Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kasus terkait Masalah Fertilitas Meningkat di Indonesia, Apa Penyebabnya?

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 22 Apr 2026 08:50 WIB

Ilustrasi Tes Kehamilan
Ilustrasi Pasangan Suami Istri/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Kiwis
Jakarta -

Masalah fertilitas dapat dialami suami dan istri hingga membuat pasangan tidak bisa memiliki keturunan. Masalah terkait fertilitas ini ternyata meningkat di Indonesia, Bunda.

Menurut ulasan di tahun 2023, 15 sampai 25 persen pasangan menikah di Indonesia mengalami fertilitas. Lalu, 4 hingga 6 juta pasangan membutuhkan treatment fertilitas di Indonesia.

"Ada data tentang peningkatan infertilitas. Pada tahun 2020, kurang lebih 10 persen orang memiliki masalah fertilitas. Saat ini, 1 dari 6 orang dewasa memiliki masalah fertilitas," kata CEO & Co-Founder Ovy Health, Sastya Wardani, dalam acara Diskusi Kesehatan Reproduksi Perempuan bersama Ovy Health, di Jakarta Pusat, belum lama ini.

Masalah fertilitas dapat muncul karena kesadaran perempuan masih cukup rendah dalam memahami kesehatan reproduksinya, Bunda. Data tahun 2024 dari Milieu menunjukkan bahwa 85 persen perempuan di Asia Tenggara masih menghadapi keterbatasan dalam memahami kondisi tubuh mereka sendiri, serta pilihan yang tersedia untuk merencanakan masa depan mereka.

"Banyak perempuan baru mencari bantuan ketika sudah menghadapi kondisi yang lebih kompleks. Empat dari lima kondisi hormonal perempuan di Indonesia tidak terdiagnosis dengan baik, sehingga menjadi masalah fertilitas," ujar Sastya.

"Padahal, dengan informasi dan pendampingan yang tepat sejak awal, banyak hal bisa dipersiapkan dengan lebih baik," sambungnya.

Selain tidak mengenali gejala hormonal, masih banyak perempuan kurang mendapatkan edukasi tentang siklus menstruasi dan tanda kesuburan. Tak hanya itu, hambatan nyata juga berasal dari stigma sosial yang sering kali menghambat diskusi terbuka.

Masalah fertilitas sebenarnya dapat ditangani bila dilaporkan lebih awal. Semakin cepat masalah terdiagnosis, maka semakin cepat penanganannya.

"Masalah fertilitas yang terjadi masih bisa diperbaiki dan ada solusi selama penanganannya tepat. Ketika sudah berubah menjadi infertilitas, di situ akan jauh lebih sulit," ungkap Sastya.

Masalah fertilitas pada perempuan dapat disebabkan karena banyak hal. Beberapa di antaranya adalah PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), endometriosis, atau kondisi yang menyebabkan kadar anti mullerian hormone (AMH) menjadi rendah.

Menurut data, 12 hingga 20 persen perempuan Indonesia di usia subur terdiagnosis PCOS. Sementara menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023, 70 persen kasus PCOS ini tidak terdeteksi atau terdiagnosis, Bunda.

Perawatan kesuburan bisa jadi pilihan untuk program hamil

Bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki anak dan memiliki masalah fertilitas, pilihan untuk mendapatkan keturunan bisa dibantu dengan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Menurut studi International Journal of Gynecology & Obstetrics (IJGO) tahun 2024, tingkat kehamilan dari siklus IVF di Indonesia mencapai 24,6 hingga 37,3 persen.

Menurut Sastya, saat ini sudah tersedia sekitar 50 klinik IVF di Indonesia yang bisa dijadikan opsi tempat untuk memulai program hamil. Namun faktanya, belum banyak pasangan yang memilih program ini untuk mendapatkan momongan.

"Siklus IVF di Indonesia itu 22.000 per tahun. Kalau di Amerika Serikat yang populasinya sedikit lebih banyak dari kita, itu 500.000 siklusnya per tahun. Sementara di negara India sudah mencapai lebih dari 125.000 per tahun," kata Sastya.

Demikian penjelasan terkait temuan kasus terkait masalah fertilitas di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda