Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Risiko Kehamilan di Atas 40 Th seperti Annisa Pohan dan Cara Mempersiapkan Persalinannya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 31 Mar 2026 10:50 WIB

Maternity Shoot Annisa Pohan
Risiko Kehamilan di Atas 40 Tahun seperti Annisa Pohan/ Foto: Instagram @annisayudhoyono
Daftar Isi
Jakarta -

Kabar bahagia datang dari keluarga Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sang istri Annisa Pohan baru saja melahirkan anak kedua berjenis kelamin laki-laki, pada Minggu, 29 Maret 2026, di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta.

Kabar kelahiran anak kedua ini disampaikan langsung AHY dalam konferensi pers di YouTube Agus Yudhoyono. Dalam kesempatan ini, AHY juga mengumumkan nama anak keduanya ke publik.

"Pada pukul 19,28 lahirnya putra kami, dengan berat 3,076 kg. panjang 49 cm. Seorang anak laki-laki yang kami beri nama Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono," kata AHY.

Proses persalinan Annisa berjalan lancar dibantu dengan tim dokter dari rumah sakit, Bunda. Menurut AHY, faktor usia menjadi salah satu alasan kenapa istrinya begitu matang mempersiapkan persalinannya ini.

"Usia istri kami yang tidak muda lagi, maka dipastikan kondisinya siap untuk melahirkan, dan alhamdulillah didukung oleh tim dokter yang berpengalaman, dari persalinan sampai proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini)," ujar AHY.

Perlu diketahui, Annisa Pohan melahirkan anak keduanya di usia 44 tahun. Sebelum melahirkan, Annisa sempat merahasiakan kehamilan keduanya ini dari publik.

Risiko hamil dan melahirkan di usia 40-an

Menjalani kehamilan di atas usia 40 tahun memang tak mudah bagi kebanyakan perempuan. Pasalnya, terdapat beberapa risiko tambahan terkait dengan kehamilan di usia lanjut, Bunda.

Menurut dokter kandungan Kecia Gaither, MD, MPH, terjadinya komplikasi menjadi salah satu risiko kehamilan di usia 40 tahun. Perempuan yang lebih tua cenderung memiliki lebih banyak masalah kesehatan daripada mereka yang lebih muda, misalnya tekanan darah tinggi.

"Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko preeklampsia, yaitu kondisi ketika tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan organ muncul secara tiba-tiba selama kehamilan. Jika tidak diobati, hal ini dapat menyebabkan masalah serius atau fatal bagi ibu dan bayinya," katanya, dilansir Web MD.

Tak hanya itu, kehamilan di usia lanjut juga dapat memengaruhi kesehatan bayi, bahkan jika Bunda tidak memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Berikut beberapa risiko hamil di atas usia 40 tahun:

1. Berat badan bayi saat lahir besar

Sebuah penelitian menemukan bahwa risiko makrosomia atau atau berat badan bayi saat lahir besar akan meningkat seiring bertambahnya usia ibu.

2. Plasenta previa

Plasenta previa terjadi ketika sebagian atau seluruh plasenta menutupi serviks atau area keluar bayi dari rahim. Plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan lebih banyak selama kehamilan dan saat persalinan.

3. Diabetes gestasional

Kondisi ini terjadi ketika perempuan terkena diabetes untuk pertama kalinya saat hamil. Diabetes gestasional dapat menyebabkan kadar gula darah tinggi yang dapat memengaruhi kesehatan bayi dan kehamilan Bunda.

4. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang berkembang selama kehamilan. Kondisi ini berbeda dengan preeklampsia, yang merupakan komplikasi tekanan darah selama kehamilan. Meski begitu, preeklampsia juga lebih umum terjadi pada perempuan yang hamil di atas usia 40 tahun, bahkan tanpa riwayat hipertensi.

5. Keguguran

Melansir dari laman John Hopkins Medicine, keguguran terjadi pada 10 hingga 30 persen dari semua kehamilan. Keguguran biasanya disebabkan oleh kelainan genetik atau kromosom yang terjadi di awal kehamilan. Kelainan kromosom janin lebih umum terjadi pada ibu dengan usia lanjut.

6. Persalinan ceesar

Ibu yang lebih tua memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dan mungkin memerlukan persalinan caesar untuk melahirkan. Namun, pilihan melahirkan ini juga dapat bergantung pada kesehatan dan preferensi pribadi ibu.

7. Kelahiran prematur

Persalinan prematur juga lebih sering terjadi pada ibu hamil di atas usia 40 tahun. Melahirkan sebelum perkembangan janin mencapai usia kehamilan penuh dapat berarti berat badan lahir rendah dan peningkatan risiko kesehatan lainnya bagi bayi.

8. Kelainan kromosom janin

Risiko memiliki anak dengan kelainan kromosom seperti sindrom Down meningkat seiring bertambahnya usia. Pada ibu hamil usia 20 tahun, 1 dari 1.480 anaknya akan lahir dengan kondisi tersebut. Namun pada usia 40 tahun, risiko ini meningkat menjadi 1 dari 85. Pada usia 45 tahun, risikonya adalah 1 dari 35.

Persiapan hamil di atas usia 40 tahun

Kehamilan yang sehat tetap bisa dimiliki perempuan berusia 40 tahunan. Kuncinya adalah persiapan hamil yang matang, Bunda. Berikut beberapa persiapan hamil di atas usia 40 tahun untuk melahirkan anak sehat:

1. Menjalani tes prenatal

Tes prenatal dapat dilakukan sebelum dan selama kehamilan. Tes ini dapat menilai risiko cacat lahir atau kelainan genetik tertentu.

"Tes skrining dan tes diagnostik prenatal ditawarkan kepada semua wanita hamil dengan atau tanpa riwayat kelainan. Ini adalah pilihan dari pasangan suami istri. Bicaralah dengan dokter kandungan tentang opsi pengujian genetik ini," demikian kata American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) di laman resminya.

2. Rutin kontrol ke dokter

Kontrol lebih sering ke dokter diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan Bunda sejak program hamil. Kontrol kesehatan juga perlu dilakukan oleh suami.

Bila sudah lama program hamil tidak berhasil, pasangan suami istri dapat kontrol ke dokter spesialis kesuburan. Selain dokter spesialis obstetri dan ginekologi, ada pula dokter andrologi khusus untuk pria.

Ketika sudah dinyatakan hamil, perempuan tetap perlu mendapatkan pendampingan medis dari dokter atau bidan.

3. Pola hidup sehat

Menerapkan pola makan sehat sangat penting dalam menjaga kehamilan. Pola makan sehat ini dapat terdiri dari konsumsi sumber makronutrien dan mikronutrien sejak program hamil dan sepanjang kehamilan.

Selain itu, Bunda jangan lupa banyak bergerak atau rutin melakukan olahraga. Menurut ACOG, jika Bunda dalam kondisi sehat dan kehamilan berjalan normal, maka aman untuk melanjutkan atau memulai aktivitas fisik secara teratur. Selain tidak berisiko menyebabkan keguguran, olahraga saat hamil juga tidak akan meningkatkan risiko berat badan lahir rendah atau persalinan dini.

Meski begitu, penting untuk berkonsultasi dulu ke dokter sebelum mulai berolahraga. Pastikan Bunda mendapat izin dari dokter untuk menghindari risiko tidak diinginkan.

"Penting untuk mendiskusikan olahraga dengan dokter kandungan dan ginekolog selama kunjungan pranatal awal. Jika dokter kandungan mengizinkan berolahraga, ibu hamil dapat mendiskusikan aktivitas apa saja yang aman untuk dilakukan," kata ACOG.

Demikian risiko kehamilan di atas 40 tahun yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda