Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Cerita Bayi Tabung Pertama di Amerika, Kini Dewasa dan Masih Sering Ditanya Hal Aneh

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Sabtu, 04 Apr 2026 11:30 WIB

Elizabeth Carr
Cerita Bayi Tabung Pertama di Amerika, Kini Dewasa dan Masih Sering Ditanya Hal Aneh/Foto: Instagram @ejordan12
Daftar Isi
Jakarta -

Teknologi bayi tabung atau IVF kini sudah jadi harapan bagi banyak pasangan. Tapi Bunda, tahukah bahwa dulu metode ini sempat menuai kontroversi besar? Kisah Elizabeth Carr, bayi IVF pertama di Amerika Serikat, menjadi bukti bagaimana sesuatu yang dulu dianggap 'aneh' kini justru menyelamatkan banyak keluarga.

Bayangkan lahir ke dunia bukan hanya sebagai bayi biasa, tapi juga sebagai simbol kemajuan ilmu pengetahuan. Kini, di usianya yang sudah menginjak 44 tahun, Elizabeth hidup seperti perempuan pada umumnya. Namun, statusnya sebagai bayi IVF pertama membuat hidupnya tak pernah benar-benar lepas dari sorotan bahkan hingga sekarang. Berikut kisahya dikutip dari Nypost.

Lahir dari prosedur yang dulu kontroversial

Elizabeth Carr lahir pada 28 Desember 1981 melalui metode in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung. Saat itu, teknologi ini masih sangat baru dan bahkan dianggap kontroversial. Orang tuanya memilih IVF setelah sang ibu mengalami tiga kali kehamilan ektopik yang membuatnya sulit mempertahankan kehamilan. 

Karena aturan hukum di negara bagian asal mereka, proses IVF bahkan harus dilakukan di Virginia.  Kelahiran Elizabeth pun langsung menjadi sorotan besar media. Ia bahkan sudah “berhadapan” dengan wartawan sejak usia tiga hari, sebuah pengalaman yang tentu tidak dialami bayi lain. 

“Saya benar-benar merasa seperti kakak perempuan bagi banyak anak di seluruh dunia. Ini masih merupakan teknologi yang menurut saya masih dalam tahap awal. Kita masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh,” kata Carr. Namun, kelahirannya yang inovatif telah melahirkan beberapa generasi bayi yang lahir berkat ilmu pengetahuan.

Dijuluki 'bayi ajaib' tapi seakan jadi tontonan

Di masa itu, bayi tabung sering disebut sebagai test-tube baby. Banyak orang belum memahami prosesnya, bahkan mengira bayi seperti Elizabeth dibuat di laboratorium sepenuhnya. Elizabeth sendiri menyebut masa kecilnya seperti hidup di bawah mikroskop. Sejak masih berupa embrio, kehidupannya sudah jadi perhatian publik. Namun, orang tuanya sengaja membuka kisah mereka ke publik untuk memberi harapan bagi pasangan lain yang sulit punya anak.

“Ketika orang tua saya mencoba untuk hamil, mereka segera menyadari bahwa ibu saya bisa hamil tetapi tidak bisa mempertahankan kehamilan. Tuba fallopinya pecah hingga menyebabkan pendarahan internal yang parah. Saat pemulihan dari operasi, dokter kandungan berkata, ‘Yah, saya tidak tahu bagaimana Anda memikirkan tentang memiliki keluarga, tetapi saya baru saja kembali dari konferensi di mana saya belajar tentang hal yang disebut IVF,” tutur Carr.

Ibu dan ayahnya melakukan perjalanan ke Virginia untuk mendapatkan bantuan reproduksi karena IVF 'ilegal' di negara bagian asal mereka, Massachusetts, pada saat itu, kata Carr. Negara bagian New England tersebut baru-baru ini mencatat persentase kelahiran terkait IVF tertinggi (5,5 persen) di negara itu, menurut CDC.

Hanya beberapa jam setelah kelahiran Carr yang bersejarah, dia dan orang tuanya terseret ke dalam 'hiruk-pikuk media', lengkap dengan penampilan di televisi dan pemotretan untuk sampul majalah Life.

Sebelum kelahiran monumentalnya, 14 bayi lainnya lahir melalui teknologi yang saat itu sedang berkembang pesat, termasuk Louise Joy Brown, dari Inggris, yang meraih predikat bayi IVF pertama di dunia pada Juli 1978.

Kini, hampir 50 tahun kemudian, prosedur mahal ini yang untuk satu putaran dapat menelan biaya lebih dari US$25.000 di AS menyumbang 2,6 persen dari kelahiran di Amerika, menurut laporan, dan memiliki popularitas pasar global yang diperkirakan akan melonjak hingga US$49,12 miliar pada tahun 2033, karena kemajuan teknologi, serta peningkatan kasus infertilitas.

Namun bagi orang tua Carr, Judith dan Roger, infertilitas bukanlah masalahnya. Keberhasilan membawa bayi hingga cukup bulan adalah perjuangan terbesar pasangan tersebut.

Dari eksperimen jadi harapan banyak keluarga

Fertilisasi in vitro (IVF), proses sel telur dan sperma disatukan di laboratorium untuk menciptakan embrio, telah berkembang pesat sebagai sumber daya medis bagi para calon orang tua di seluruh dunia, dalam beberapa dekade sejak konsepsi tidak konvensional Carr. Meski teknologi IVF kini sudah umum bahkan telah membantu kelahiran jutaan bayi di dunia Elizabeth masih sering mendapat pertanyaan yang terdengar aneh.

Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah, “Apakah kamu punya pusar (belly button)?”

Pertanyaan ini muncul karena masih ada orang yang salah paham, mengira bayi IVF tidak berkembang di rahim seperti biasa. Padahal kenyataannya, proses IVF hanya membantu pembuahan di luar tubuh, lalu embrio tetap berkembang di dalam rahim ibu seperti kehamilan normal.

Dulu dianggap eksperimen, kini IVF menjadi salah satu solusi utama bagi pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak. Elizabeth sendiri kini aktif menjadi advokat dan edukator, membantu masyarakat memahami bahwa teknologi ini tidak aneh atau berbahaya. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai 'kakak besar' bagi anak-anak IVF di seluruh dunia.

Yang menarik, Elizabeth tumbuh sehat dan bahkan bisa memiliki anak secara alami tanpa bantuan IVF. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa bayi tabung tidak berbeda dengan anak-anak lainnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda