kehamilan
Bayi Meninggal di Kandungan, Bunda Ini Salahkan Dokter karena Anggap Remeh Keluhannya
HaiBunda
Minggu, 05 Apr 2026 11:00 WIB
Daftar Isi
Bunda ini merasakan ada keanehan dalam kehamilannya. Ia pun menyampaikannya ke dokter namun tak ditanggapi. Alhasil, bayi di kandungannya meninggal. Kejadian ini membuat Bunda dari Illinois ini kehilangan kepercayaan terhadap dokter.
Stephanie Poirrier, seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang masih hidup, sedang menantikan kelahiran bayi laki-laki bernama Stetson pada Juni 2026. Kabar gembira ini datang setelah mengalami keguguran pada Juli 2025.
Tanda yang diabaikan, berujung duka
Poirrier merasa ada yang tidak beres sejak awal kehamilannya. Ia mengalami diabetes gestasional selama kehamilannya, namun ia mendapatkan obat yang salah.
Itu berawal ketika pada usia kehamilan 12 minggu, ia mengunjungi kantor dokter kandungan setempat. Ini merupakan kantor yang sama yang ia percayai untuk membantu tiga kehamilan pertamanya. Tetapi kali ini, dokter dan stafnya berbeda.
"Mereka meresepkan obat yang salah dimasukkan ke dalam sistem," katanya dilansir KDSK .
"Saya meminumnya, dan kadar gula darah saya turun sangat rendah hingga suami saya harus membawa saya ke ruang gawat darurat. Saya berisiko mengalami syok hipoglikemik."
Sehari setelah kunjungan ke rumah sakit, Poirrier mengatakan ia kembali ke kantor dokter, dan ia mengatakan dokter tersebut bertindak seolah-olah tidak mengenalinya.
"Ingat, saya sudah berobat di kantor ini selama 10 tahun... Saya sudah melahirkan tiga anak di sana," ujarnya.
Perlakuan tersebut membuar Poirrier mencari dokter baru. Kunjungan pertama kali ke dokter baru itu saat Poirrier hamil 13 minggu.
"Pada bulan Januari, saya pergi ke kantor dokter di St. Louis karena saya mendengar bahwa di sana, mereka jauh lebih perhatian dan lebih mendengarkan daripada dokter di sini," katanya.
Ia menyampaikan kekhawatirannya tentang yang pernah terjadi di kantor dokter lama. "Benar-benar mengungkapkan bahwa saya perlu kekhawatiran saya ditanggapi lebih serius daripada sebelumnya," katanya.
Saat itu, kata Poirrier, semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi pada kunjungan berikutnya, keanehan kembali terjadi. Teknisi memberitahukan detak jantung putranya adalah 160 saat Doppler digerakkan di perutnya.
Tetapi Poirrier tidak mendengar apa pun. Ketika dia mengatakannya, teknisi meyakinkannya bahwa detak jantung telah terdeteksi.
"Saya mengirim email kepada mereka melalui portal pasien, dan saya menyampaikan kekhawatiran saya," katanya.
Poirrier menceritakan bahwa selama kehamilannya, ia mengkomunikasikan bahwa ia mengalami kram dan sakit kepala yang parah, tetapi ia ingat bahwa kedua kantor tersebut mengatakan kepadanya bahwa itu "normal."
Pada usia kehamilan 17 minggu, Poirrier tidak merasakan gerakan atau denyutan apa pun. Selama pemeriksaan kehamilannya yang ke-16 minggu, ia diyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia meminta kantor tersebut untuk mendokumentasikan gejala-gejala ini di portal perawat, dan ia mengatakan bahwa dokternya berkata, "Terkadang, ini bisa terjadi."
"Saya tidak begitu nyaman dengan jawaban mereka," katanya.
Hingga akhirnya, pada Februari, Poirrier melakukan pemeriksaan di tempat USG non-medis. Saat itu, ia mendapat kabar yang paling ditakutkan,tidak ada detak jantung pada bayinya. Poirrier segera menelepon dokternya dan memberi tahu perawat apa yang terjadi.
"Wanita itu sangat dingin," kata Poirrier, mengenang kembali semuanya.Â
"Dia berkata, 'Yah, kami sudah menyuruh Anda pergi ke rumah sakit jika Anda memiliki kekhawatiran.' Saya berkata, 'Yah, saya memang khawatir, tetapi saya mendengarkan penjelasan dari kantor Anda dan percaya bahwa Anda tahu apa yang Anda bicarakan.' Saya mendengarkan mereka, dan mereka hampir 100 persen meyakinkan saya bahwa ini bisa normal, jadi saya mempercayainya," tegasnya.
Saat kondisi terpukul, Poirrier pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa janin tersebut kemungkinan sudah berhenti berkembang sejak usia 16–17 minggu, waktu yang sama ketika ia mulai mengeluhkan kondisi yang tidak biasa.
"Sekitar waktu yang sama, saya memberi tahu dokter saya bahwa saya tidak mendengar detak jantungnya pada Doppler itu," katanya.
Ini artinya, selama sekitar dua minggu ia mengandung janin tanpa detak jantung.Â
Kehilangan kepercayaan pasien
Poirrier mengaku kehilangan kepercayaan pada profesional kesehatan karena pengalamannya. Ternyata, ia tak sendirian.
Sebuah studi kampanye yang dilakukan oleh Peanut, sebuah aplikasi dukungan komunitas, menilai pengalaman 3.600 perempuan dari AS, Inggris, dan negara lain dalam perjalanan kehamilan dan persalinan mereka pada tahun 2023.Â
Studi tersebut menemukan bahwa 79 persen perempuan merasa tidak terlihat, sementara 95 persen dari mereka merasa tidak dihargai, tidak diakui, atau tidak diperhatikan. Invisible Mothers, yang merilis data tersebut dalam sebuah laporan berjudul The State of Invisibility.
"Wanita sering merasa diabaikan, tidak divalidasi, atau perjuangan mereka diabaikan," kata laporan itu. Selain itu, 51 persen wanita tidak merasa didukung oleh sistem perawatan kesehatan setelah melahirkan.
Sejak kehilangan janinnya, Poirrier mengatakan ia mengunjungi mantan dokter kandungannya, di mana ia mengungkapkan kepada dokter bahwa ia merasa sangat tidak didengarkan selama masa kehamilannya.
Laporan State of Invisibility juga menunjukkan bahwa perempuan menghadapi keguguran dan kehilangan kehamilan dalam diam.
Cara minimalkan risiko kehamilan
Pengalaman Poirrier ini memang berat. Tapi ada beberapa pelajaran penting yang bisa Bunda ambil.Â
1. Jangan abaikan insting Bunda
Ibu hamil sering kali bisa merasakan perubahan kecil pada tubuhnya. Menurut penelitian, persepsi ibu terhadap gerakan janin sangat penting sebagai indikator awal kesejahteraan janin.Â
2. Gerakan janin penting
Penurunan atau tidak adanya gerakan janin bisa menjadi tanda bahaya. Organisasi seperti American College of Obstetricians and Gynecologists menyarankan ibu hamil untuk segera mencari pertolongan medis jika:
- Gerakan janin berkurang drastis
- Tidak merasakan gerakan janin dalam waktu tertentu
3. Hak Bunda untuk didengar
Sebuah studi dari aplikasi komunitas ibu Peanut terhadap 3.600 wanita menemukan:
- 79 persen ibu merasa 'tidak terlihat'
- 69 persen merasa kurang empati dari lingkungan
- 34 persen merasa tenaga kesehatan turut berkontribusi pada perasaan ini
Oleh karena itu, jika Bunda merasakan hal yang janggal selama kehamilan, tak perlu segan untuk bertanya kepada ahli medis. Jika memang jawabannya dirasa kurang memuaskan, tak apa bila Bunda ingin mendengar second opinion dari pakar lainnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Bunda yang Terinfeksi COVID-19 saat Hamil Berisiko Alami Still Birth
Kehamilan
5 Cara Beri Dukungan untuk Bunda yang Alami Keguguran dan Kehilangan Bayinya
Kehamilan
7 Pertanyaan yang Wajib Ditanyakan ke Dokter Kandungan Saat Pemeriksaan Rutin
Kehamilan
Tips Memilih Dokter Kandungan yang Tepat
Kehamilan
3 Faktor Penyebab Bayi Meninggal dalam Kandungan Menurut Dokter
5 Foto
Kehamilan
5 Potret Lesti Kejora ke Dokter Kandungan, Baby Bump-nya Semakin Membesar
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kisah Bayi Pertama Lahir dari Rahim Transplantasi Donor yang Telah Meninggal
Tak Banyak yang Tahu, Miss Canada Ini Ikut Miss Universe saat Hamil 4 Bulan
Gwen Stefani Kenang Pengalaman Hamil di Usia 44 Th, Penuh Cerita Emosional