kehamilan
5 Gangguan Kehamilan yang Umum Terjadi, Ketahui Cara Mencegahnya Bunda
HaiBunda
Kamis, 26 Mar 2026 08:50 WIB
Daftar Isi
Sebagian besar kehamilan dapat berjalan dengan lancar, Bunda. Namun, ada juga kondisi di mana ibu mengalami gangguan kehamilan yang membahayakan dirinya atau janin di dalam kandungan.
Gangguan kehamilan atau komplikasi adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi kesejahteraan ibu hamil, janin, atau keduanya. Menurut ulasan di laman Science Direct, gangguan ini berkisar dari masalah ringan hingga kondisi parah yang mengancam jiwa.
Setiap Bunda bisa berisiko mengalami gangguan kehamilan. Namun, risikonya dapat meningkat pada Bunda dengan kondisi tertentu.
Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko perempuan mengalami gangguan kehamilan:
- Usia ibu hamil di atas 35 tahun
- Usia ibu hamil di bawah 20 tahun
- Hamil lebih dari satu janin
- Memiliki riwayat keguguran
- Memiliki riwayat operasi caesar
- Obesitas
- Menjalani gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan konsumsi alkohol
Perempuan dengan faktor-faktor di atas sebaiknya memeriksakan diri ke dokter, bahkan sebelum hamil atau saat merencanakan kehamilan. Pasalnya, mempersiapkan kehamilan dengan matang menjadi salah satu kunci utama kehamilan sehat.
Gangguan kehamilan yang umum terjadi
Melansir dari beberapa sumber, berikut 5 gangguan kehamilan yang umum terjadi:
1. Hiperemesis gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah istilah medis untuk mual dan muntah parah selama kehamilan. Dilansir John Hopkins Medicine, hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan penurunan berat badan yang signifikan dan mungkin memerlukan rawat inap.
Perbedaan utama antara hiperemesis gravidarum dan morning sickness biasa adalah bahwa hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan penurunan berat badan sebesar 5 persen atau lebih dari berat badan sebelum kehamilan. Hingga kini, para dokter belum sepenuhnya memahami HG, apa penyebabnya, atau siapa yang lebih mungkin mengalaminya.
Bunda tidak dapat mencegah hiperemesis gravidarum, tetapi bisa mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan dan mengelolanya selama kehamilan. Hal terpenting yang dapat dilakukan adalah mendapatkan perawatan prenatal secara teratur.
"Pengobatan untuk hiperemesis gravidarum seringkali didasarkan pada tingkat keparahan gejala yang dialami seseorang," kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Alyssa Dweck, MS, MD, FACOG, dikutip dari Parents.
"Dokter biasanya akan menyarankan perubahan pola makan dan gaya hidup seperti makan dalam porsi kecil dan lebih sering serta menghindari pemicu untuk membantu pasien mengatasi gejala, tetapi seringkali pengobatan juga diperlukan untuk mengelola gejala HG."
2. Diabetes gestasional
Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang terjadi selama kehamilan. Salah satu risiko terbesar diabetes gestasional adalah bayi mungkin tumbuh jauh lebih besar dari normal atau disebut makrosomia.
Risiko makrosomia dapat membuat bahu bayi tersangkut selama persalinan. Jika bayi dianggap terlalu besar untuk persalinan pervaginam, dokter biasanya akan merekomendasikan operasi caesar.
Diabetes gestasional tidak memiliki tanda atau gejala yang terlihat, Bunda. Dokter biasanya melakukan skrining untuk mendeteksinya antara minggu ke-24 dan ke-28 kehamilan, atau lebih awal pada ibu yang berisiko tinggi seperti kelebihan berat badan atau memiliki riwayat diabetes gestasional.
Risiko diabetes gestasional dapat ditekan dengan menurunkan berat badan sebelum kehamilan, mengikuti diet sehat, dan berolahraga secara teratur. Pada Bunda yang sudah didiagnosis diabetes gestasional, dokter biasanya akan mengendalikannya dengan diet dan olahraga. Namun, beberapa perempuan dengan kondisi ini tetap perlu mengonsumsi obat-obatan untuk mengontrol kadar gula darah.
Ilustrasi Ibu Hamil Mengalami Diabetes Gestasional/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Nagaiets |
3. Plasenta previa
Plasenta merupakan organ yang menyediakan oksigen dan nutrisi bagi bayi selama di dalam kandungan. Plasenta biasanya menempel pada bagian atas rahim. Namun pada plasenta previa, plasenta menutupi serviks (yaitu lubang antara rahim dan vagina) secara keseluruhan atau sebagian.
Bunda mungkin berisiko lebih tinggi mengalami plasenta previa bila memiliki jaringan parut pada rahim akibat kehamilan sebelumnya, pernah menjalani operasi rahim, atau memiliki fibroid. Sejauh ini, tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencegah plasenta previa. Namun, Bunda dapat meningkatkan kesehatan dengan menjalani perawatan prenatal secara teratur.
Plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan selama kehamilan. Beberapa Bunda tidak mengalami perdarahan, tapi menyadari munculnya bercak darah. Jika perdarahannya hebat, Bunda mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu.
Perempuan dengan plasenta previa umumnya memerlukan tindakan operasi caesar untuk melahirkan bayinya. Persalinan biasanya dijadwalkan dua hingga empat minggu sebelum tanggal perkiraan kelahiran.
4. Preeklamsia
Preeklampsia adalah kondisi yang menyebabkan tekanan darah tinggi yang berbahaya, yang biasanya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan sering kali pada perempuan yang tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Preeklamsia dapat mengancam jiwa bila tidak diobati.
Faktor risiko preeklampsia dapat meliputi riwayat tekanan darah tinggi, obesitas, usia (ibu remaja dan ibu yang berusia di atas 40 tahun memiliki risiko lebih tinggi), dan kehamilan kembar.
Jika memiliki faktor risiko, para ahli menyarankan perempuan untuk menemui dokter kandungan sebelum hamil atau di awal kehamilan. Pasalnya, kunjungan prenatal rutin adalah cara terbaik untuk mengendalikan preeklampsia.
Lantas, bagaimana cara mengobati preeklamsia?
Preeklamsia hanya akan hilang setelah bayi lahir. Itu artinya, persalinan adalah cara terbaik untuk mengobati preeklampsia.
Sebaliknya, melahirkan bayi terlalu dini dapat membahayakan kesehatan bayi. Namun, keputusan tentang cara mengobati sebagian besar akan bergantung pada usia kehamilan. Ibu hamil mungkin perlu dirawat di rumah sakit agar tim medis dapat memantau kondisi ibu dan bayi dengan cermat.
5. Infeksi saat kehamilan
Infeksi saat kehamilan dapat menjadi komplikasi yang membahayakan janin, Bunda. Beberapa gangguan kehamilan karena infeksi dapat berupa kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, cacat lahir, hingga penyakit serius pada bayi setelah lahir.
Melansir dari laman Medline Plus, beberapa infeksi yang dapat membahayakan selama kehamilan meliputi:
- Bacterial vaginosis (BV)
- Streptokokus Grup B (GBS)
- Sitomegalovirus
- Hepatitis
- Infeksi menular seksual (IMS)
- Toksoplasmosis
- Infeksi saluran kemih
- Infeksi jamur
- Virus Zika
Menjaga kebersihan, merawat diri sendiri, dan mendapatkan perawatan prenatal secara teratur dapat menurunkan risiko infeksi selama kehamilan. Sedangkan pengobatan pada ibu hamil yang sudah terpapar akan tergantung pada jenis infeksi dan kondisi kehamilan.
Demikian 5 gangguan kehamilan yang umum terjadi dan perlu diwaspadai. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Komentar Pedas soal Berat Badan pada Bumil Bisa Picu Gangguan Kehamilan, Ini Kata Ahli
Kehamilan
4 Gangguan yang Mungkin Dialami di Usia Kehamilan 4 Bulan Serta Tips Mengatasinya
Kehamilan
4 Tips Mengatasi Alergi Saat Hamil, Bunda Perlu Tahu
Kehamilan
Bertaruh Nyawa, Ibu Hamil Ektopik Pertahankan Bayi hingga Bisa Melahirkan
Kehamilan
Tips Mengatasi Suhu Tubuh yang Terasa Lebih Gerah Saat Hamil
7 Foto
Kehamilan
Intip 7 Potret Baby Moon Siti Badriah di Bali, Seru Bareng Suami Bun
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ilustrasi Ibu Hamil Mengalami Diabetes Gestasional/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Nagaiets
13 Komplikasi Kehamilan Kembar pada Bayi dan Ibu Hamil
Tak Disangka, Komplikasi saat Hamil Ternyata Pengaruhi Kesehatan Bunda di Masa Depan
10 Artis yang Berjuang Hadapi Komplikasi Kehamilan