kehamilan
Tingkat Ibu Melahirkan dengan Robekan Perineum Melonjak, Bisa Sebabkan Trauma
HaiBunda
Sabtu, 11 Apr 2026 21:00 WIB
Daftar Isi
Bayi yang lahir melalui persalinan normal tentu melewati jalan lahir. Dalam proses ini, otot perineum akan meregang untuk membantu bayi keluar. Namun, tahukah Bunda bahwa proses tersebut juga dapat menyebabkan robekan perineum?
Meski robekan perineum cukup umum terjadi saat persalinan, biasanya tingkat robekannya tidak terlalu parah, Bunda. Yang perlu diwaspadai adalah jika robekan sudah mencapai tingkat tiga atau empat karena dapat menimbulkan komplikasi.
Lantas, apa yang membuat robekan perineum menjadi lebih parah? Yuk, simak informasinya berikut ini, Bunda.
Apa yang menyebabkan robekan perineum?
Saat melahirkan, dokter atau bidan kadang membuat sayatan (episiotomi) di area yang diapit vagina dan anus, atau yang disebut perineum. Area tersebut berbentuk belah ketupat, dan berfungsi untuk menopang organ reproduksi serta berperan penting dalam proses persalinan normal.
Episiotomi umumnya dilakukan agar pembukaan vagina sedikit lebih lebar sehingga memudahkan dokter untuk mengeluarkan bayi dari rahim. Memang betul, tapi banyak yang salah mengira kalau episiotomi dapat mencegah parahnya robekan perineum yang terjadi secara alami.
Dibandingkan dengan robekan yang terjadi secara alami, episiotomi justru dapat meningkatkan risiko robekan yang lebih lebar, bahkan sampai ke anus. Mengingat hal tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya mengizinkan tindakan episiotomi pada kondisi tertentu.
Pasalnya, kasus robekan perineum yang parah akibat episiotomi sempat melonjak di beberapa negara. Cedera tersebut dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental ibu, bahkan banyak di antaranya yang mengalami trauma hingga enggan memiliki anak lagi.
Lonjakan robekan perineum yang dialami ibu saat melahirkan
Berdasarkan penelitian dari National Health Service (NHS), kasus robekan perineum pada ibu meningkat sekitar 16 persen dalam lima tahun terakhir. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan dari 25 per 1.000 menjadi 29 per 1.000 kelahiran pada periode Juni 2020 hingga Juni 2025.
“Di balik angka-angka ini, ada kisah sedih dari para perempuan yang mengalami trauma berat pada momen ini, yang mana seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya,” kata juru bicara kesehatan Demokrat Liberal, Helen Morgan.
Pengamat dari Inggris juga menyebutkan bahwa hampir 3 persen perempuan yang melahirkan dengan normal mengalami cedera robekan perineum dengan serius. Cedera tersebut mengakibatkan rusaknya sfingter anal, trauma, dan nyeri yang berkepanjangan.
Tak sampai disana, laporan dari National Maternity and Perinatal Audit baru-baru ini menemukan sekitar 3,29 persen perempuan yang melahirkan di Skotlandia dan Wales pada tahun 2023 mengalami robekan perineum tingkat tiga atau empat. Bahkan di antaranya sampai mendapatkan perawatan cedera intensif.
Lalu kapan episiotomi diperbolehkan?
Meskipun berguna dalam mempermudah dan mempercepat persalinan, WHO membatasi tindakan episiotomi dan hanya diizinkan pada kondisi tertentu. Episiotomi akan dilakukan ketika persalinan perlu dipercepat atau memerlukan bantuan alat, sebagai berikut:
- Janin mengalami tekanan: Detak jantung bayi terlalu cepat atau terlalu lambat yang menandakan bayi tidak mendapatkan cukup oksigen.
- Bayi dalam posisi sungsang: Bayi lahir dengan posisi pantat atau kaki terlebih dahulu sehingga perlu bantuan agar lebih aman.
- Ibu mengejan terlalu lama: Proses mengejan sudah berlangsung selama beberapa jam dan ibu mulai kelelahan.
- Ibu dengan kondisi kesehatan tertentu: Ibu memiliki penyakit yang sangat berisiko, seperti penyakit jantung atau kondisi medis serius lainnya.
Cara mencegah robekan perineum lebih parah
Ada beberapa cara yang bisa membantu mengurangi risiko robekan perineum saat persalinan menurut sejumlah dokter dan bidan, di antaranya:
1. Mengatur cara mengejan
Saat kepala bayi mulai keluar, bidan biasanya akan meminta ibu untuk mengejan sejenak sambil mengambil napas singkat. Cara ini akan membantu kepala bayi keluar secara perlahan sehingga perineum memiliki waktu untuk meregang.
2. Membiarkan bayi lahir secara perlahan
Kelahiran yang berlangsung secara perlahan dapat membuat kulit dan otot perineum meregang dengan lebih baik. Dengan begitu, cara ini dapat mengurangi risiko robekan yang meluas.
3. Melakukan pijat perineum secara rutin dan menjelang persalinan
Pijat perineum dapat dilakukan setiap hari hingga beberapa minggu terakhir kehamilan. Caranya dengan memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina lalu berikan tekanan lembut ke arah perineum. Pijatan ini akan mengurangi kemungkinan robekan atau kebutuhan episiotomi saat melahirkan.
Demikian informasi mengenai lonjakan kasus ibu melahirkan dengan robekan perineum. Semoga penjelasannya membantu dan bermanfaat untuk Bunda, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Cara Mengatasi Trauma bila Bunda Pernah Alami Proses Persalinan yang Sulit
Kehamilan
6 Perawatan Setelah Melahirkan, Bantu Kencangkan Kulit Kendur
Kehamilan
7 Persiapan Melahirkan Normal Supaya Berjalan Lancar, Bunda Perlu Tahu
Kehamilan
11 Tips Supaya Bunda Melahirkan Normal dan Lancar
Kehamilan
Suamiku, Genggaman Tanganmu Bisa Bikin Persalinanku Lebih Nyaman
5 Foto
Kehamilan
2 Kali Keguguran, Intip 5 Potret Kebahagiaan Ashilla Zee Eks Blink Melahirkan Anak Pertama
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Panduan Perawatan Luka Jahitan Perineum Usai Melahirkan
Kenali Pijat Perineum untuk Melancarkan Proses Melahirkan
Banyak Bumil di Negara Ini Berisiko Tinggi Trauma saat Melahirkan, Ternyata Ini Penyebabnya