Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Bayi Pertama Lahir dari Rahim Transplantasi Donor yang Telah Meninggal

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Kamis, 19 Mar 2026 13:00 WIB

7 Momen Foto Newborn Bayi Artis yang Menggemaskan
Kisah Bayi Pertama Lahir dari Rahim Transplantasi Donor yang Telah Meninggal/Foto: Instagram @na@ricardo
Daftar Isi
Jakarta -

Sebuah terobosan besar dalam dunia medis terjadi ketika seorang bayi laki-laki lahir dari rahim hasil transplantasi yang berasal dari donor yang telah meninggal dunia. Kelahiran ini menjadi tonggak penting bagi dunia kedokteran reproduksi dan memberikan harapan baru bagi perempuan yang tidak memiliki rahim atau tidak bisa hamil secara alami.

Bayi tersebut diberi nama Hugo Powell, dan ia lahir dengan sehat melalui operasi caesar pada Desember 2025 di Queen Charlotte’s and Chelsea Hospital, London. Beratnya sekitar 3,1 kilogram saat lahir.

Bayi tersebut lahir dari seorang perempuan bernama Grace Bell di Inggris. Ia sebelumnya didiagnosis dengan kondisi langka yang membuatnya lahir tanpa rahim. Namun berkat teknologi transplantasi rahim dan program penelitian medis, ia akhirnya berhasil mengandung dan melahirkan Hugo. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sadar lahir tanpa rahim sejak remaja

Sejak usia remaja, Grace Bell Bell lahir tanpa rahim dan tidak mengalami menstruasi tetapi memiliki ovarium normal - suatu kondisi yang disebut sindrom Mayer‑Rokitansky‑Küster‑Hauser syndrome (MRKH). Kondisi ini menyebabkan rahim tidak berkembang atau bahkan tidak ada sejak lahir. MRKH, yang memengaruhi satu dari setiap 5.000 perempuan di Inggris. 

Dikutip dari The Times, Dokter menyampaikan bahwa perempuan dengan kondisi ini biasanya tidak bisa mengandung atau melahirkan bayi. Mendengar hal tersebut, Grace mengira ia tidak akan pernah bisa merasakan pengalaman menjadi ibu biologis. Namun perkembangan teknologi transplantasi rahim membuka kemungkinan baru bagi perempuan dengan kondisi seperti ini.

Pada usia 16 tahun, ia diberitahu bahwa ia tidak akan mampu mengandung anaknya sendiri. Untuk memiliki bayi, satu-satunya pilihan pasangan itu adalah berharap untuk transplantasi rahim atau menempuh jalur ibu pengganti. Ketika ia menerima telepon yang mengatakan bahwa rahim telah didonorkan dan transplantasi dimungkinkan, Bell ingat merasa 'sangat terkejut' dan 'sangat gembira'.

"Saya memikirkan donor saya dan keluarganya setiap hari dan berdoa agar mereka menemukan kedamaian dalam mengetahui bahwa putri mereka memberi saya hadiah terbesar: hadiah kehidupan," kata Bell.

Operasi transplantasi rahim Bell berlangsung selama 10 jam dan dilakukan di Rumah Sakit Churchill di Oxford pada Juni 2024, sebelum pasangan itu menerima perawatan IVF beberapa bulan kemudian, diikuti oleh transfer embrio, di Klinik Kesuburan Lister di London.

Ilustrasi rahimIlustrasi rahim/ Foto: Getty Images/Svitlana Hulko


Operasi transplantasi rahim yang rumit

Pada tahun 2024, Grace menjalani operasi transplantasi rahim di rumah sakit di Oxford, Inggris. Rahim tersebut berasal dari seorang perempuan yang telah meninggal dan keluarganya menyetujui organ tersebut untuk didonasikan.

Transplantasi rahim Bell yang sukses dari donor yang telah meninggal hanyalah satu dari 10 transplantasi serupa yang dilakukan sebagai bagian dari uji coba penelitian klinis di Inggris. Tiga transplantasi telah dilakukan, tetapi ini adalah bayi pertama yang lahir.

Operasi transplantasi ini berlangsung sekitar 7 hingga 10 jam dan dilakukan oleh tim dokter spesialis transplantasi serta ginekologi. Setelah operasi berhasil, Grace menjalani terapi hormon hingga siklus menstruasinya kembali muncul.  Beberapa bulan kemudian, ia menjalani program IVF (bayi tabung) untuk memasukkan embrio ke dalam rahim transplantasi.

Kehamilan yang dinanti selama bertahun-tahun

Proses IVF tersebut akhirnya berhasil. Grace hamil dan kehamilannya dipantau secara ketat oleh tim medis.

Pada 12 Desember 2025, ia melahirkan seorang bayi laki-laki sehat melalui operasi caesar di Queen Charlotte's and Chelsea Hospital di London. Bayi tersebut diberi nama Hugo dengan berat sekitar 3,09 kilogram. 

Bagi Grace, kelahiran ini terasa seperti sebuah keajaiban. Ia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun dirinya tidak pernah membayangkan bisa mengandung dan melahirkan bayi sendiri.

Harapan baru bagi perempuan tanpa rahim

Dikutip dari People, para dokter menyebut kelahiran ini sebagai pencapaian penting dalam dunia kedokteran reproduksi. Secara global, lebih dari 100 transplantasi rahim telah dilakukan, dengan lebih dari 70 bayi berhasil lahir melalui metode tersebut. 

Namun transplantasi rahim dari donor yang sudah meninggal masih sangat jarang dilakukan. Kelahiran bayi Hugo menjadi salah satu contoh sukses yang memberikan harapan baru bagi perempuan yang tidak memiliki rahim.

Metode ini dapat menjadi alternatif selain adopsi atau ibu pengganti (surrogacy) bagi perempuan yang ingin merasakan kehamilan dan melahirkan bayi sendiri.

Donor yang mengubah hidup banyak orang

Rahim yang diterima Grace berasal dari seorang donor perempuan yang telah meninggal. Selain rahim, organ lain dari donor tersebut juga menyelamatkan atau membantu kehidupan beberapa pasien lain.

Keluarga donor mengaku bangga karena putri mereka masih dapat membantu banyak orang bahkan setelah meninggal dunia. Mereka menyebut bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan sang donor adalah memberikan harapan dan kehidupan bagi orang lain. 

Grace sendiri mengatakan bahwa ia selalu mengingat donor tersebut setiap hari dan berharap anaknya kelak mengetahui kisah luar biasa di balik kelahirannya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda