Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Belum Ada Test Pack, Begini Cara Orang Zaman Dulu Mendeteksi Kehamilan

Melly Febrida   |   HaiBunda

Jumat, 06 Mar 2026 20:30 WIB

Closeup of ladies wearing big ballgowns holding fans while waiting for partners during ball in palace, copy space
Belum Ada Test Pack, Begini Cara Orang Zaman Dulu Mendeteksi Kehamilan/Foto: Getty Images/SeventyFour
Daftar Isi
Jakarta -

Tes kehamilan pada zaman dulu tentu belum secanggih sekarang, ya Bunda. Sebelum ada test pack, banyak perempuan dan keluarganya menggunakan metode tradisional dan ilmiah jadul untuk mengetahui kehamilan. Cara apa yang dilakukan di zaman dulu?

Cara tes kehamilan zaman dulu bukan sekadar cerita turun temurun, bahkan ada yang pernah diteliti secara ilmiah. Melansir Mentalfloss, tes kehamilan rumahan mulai tersedia secara luas pada 1978, meskipun membutuhkan waktu dua jam untuk mengunjukkan hasil dan hanya akurat untuk hasil negatif 80 persen dari waktu. 

Tes kehamilan rumahan bekerja dengan mendeteksi kadar hormon kehamilan human chorionic gonadotropin (hCG) dalam urine. hCG ini hadir setelah implantasi sel telur, yang terjadi enam hingga 12 hari setelah pembuahan, dan dikeluarkan oleh sel-sel yang mulai membentuk plasenta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Begini cara orang zaman dulu mendeteksi kehamilan 

Sebelum penemuan test pack, tes kehamilan yang paling andal hanyalah menunggu dan melihat. Namun, meskipun mengetahui kehamilan dengan cara tradisional yakni melihat gejala seperti muntah, terlambat menstruasi, dan melahirkan, tetap saja orang-orang ingin tahu sedini mungkin apakah tengah mengandung bayi.

Beberapa cara ini digunakan untuk tes kehamilan. Anehnya, seringkali jawabannya adalah dengan buang air kecil. Hasilnya dipercaya akan berbeda jika hamil atau tidak. Berikut rinciannya:

1. Tes gandum dan jelai

Salah satu tes kehamilan rumahan paling awal, jika bukan yang paling awal, berasal dari Mesir kuno. Pada tahun 1350 SM, orang yang berpotensi hamil disarankan untuk buang air kecil di atas biji gandum dan jelai selama beberapa hari. Jika gandum tumbuh menandakan akan memiliki anak perempuan, dan jika jelai tumbuh maka anak laki-laki. 

Jika keduanya tidak tumbuh tandanya tidak hamil. Menariknya, tes ini benar-benar berhasil, Bunda.

Pada tahun 1963, sebuah laboratorium bereksperimen dengan tes gandum dan jelai menemukan bahwa 70 persen dari waktu, urine orang hamil akan menyebabkan biji tersebut berkecambah, sementara urine orang yang tidak hamil tidak.

2. Tes bawang

Seseorang yang curiga hamil menggunakan tes kehamilan dengan memasukkan bawang atau sayuran bulat lainnya yang berbau kuat ke dalam vagina dalam semalaman. Jika napas orang tersebut berbau bawang keesokan paginya menandakan tidak hamil.

Ini didasarkan pada gagasan bahwa jika rahim terbuka dan mengembuskan aroma bawang ke mulut seperti terowongan angin, tidak ada janin. Jika seseorang hamil, maka rahim akan tertutup, sehingga tidak ada terowongan angin.

3. Tes kunci gembok

Dari The Distaff Gospels, kumpulan pengetahuan medis perempuan yang ditulis pada akhir abad ke-15: "Teman-temanku, jika kalian ingin tahu apakah seorang wanita hamil, kalian harus memintanya untuk buang air kecil di baskom dan kemudian memasukkan gembok atau kunci ke dalamnya, tetapi lebih baik menggunakan gembok. Biarkan gembok ini di baskom bersama urine selama tiga atau empat jam. Kemudian buang urinenya dan lepaskan gemboknya. Jika kalian melihat bekas gembok di baskom, yakinlah bahwa wanita itu hamil. Jika tidak, dia tidak hamil." Apa maksudnya, ya Bunda?

4. Pemeriksaan urine secara visual

Pada tes ini, seorang dokter memeriksa urine untuk menentukan kehamilan seorang perempuan. Tes ini tetap mengakui bahwa ada sesuatu dalam air kencing orang hamil yang berbeda dari air kencing orang tidak hamil, sebuah fakta yang juga diakui pada abad ke-16. 

Para ahli yang disebut-sebut ini mengklaim mereka dapat menentukan apakah seseorang sedang hamil atau tidak berdasarkan warna dan karakteristik air kencing.

Beberapa juga mencampur air kencing dengan anggur dan mengamati hasilnya, sebuah tes yang mungkin berhasil, mengingat alkohol dapat bereaksi terhadap protein yang ada dalam air kencing orang hamil. Tentu saja, tes ini tidak membatasi hanya pada orang hamil. Pemeriksaan urine juga dapat mengintuisi apakah pemilik air kencing tersebut menderita penyakit atau gangguan kesehatan apa pun.

5. Memperhatikan perubahan mata

Seorang dokter abad ke-16, Jacques Guillemeau, mengklaim dapat mengetahui apakah seseorang hamil atau tidak dari matanya. Guillemeau, penulis risalah berpengaruh tentang oftalmologi, mengklaim bahwa sejak bulan kedua, seorang perempuan hamil memiliki mata yang cekung dengan pupil kecil, kelopak mata yang terkulai, dan pembuluh darah kecil yang bengkak di sudut mata.

Itu mungkin tidak benar semuanya, tetapi satu hal ini benar. Mata dapat berubah selama kehamilan, memengaruhi penglihatan. 

6. Tanda Chadwick

Pada awal kehamilan, sekitar enam hingga delapan minggu, serviks, labia, dan vagina dapat berubah warna menjadi biru tua atau merah keunguan, karena peningkatan aliran darah ke area tersebut. Indikasi kehamilan yang luar biasa ini pertama kali diperhatikan pada tahun 1836 oleh seorang dokter Prancis.

Kemudian dikenal sebagai tanda Chadwick, diambil dari nama James Read Chadwick, seorang dokter kandungan yang mengangkat penemuan ini pada pertemuan American Gynecological Society pada tahun 1886.

7. Tes kelinci

Selain tes observasi seperti tanda Chadwick, tes kehamilan masih merupakan hal yang tidak pasti hingga abad ke-20. Penelitian tentang hormon, hal besar dalam sains pada pergantian abad, justru membuat pengujian kehamilan menjadi tidak menyenangkan bagi sekelompok kelinci, tikus, dan mencit.

Pada tahun 1920-an, dua ilmuwan Jerman, Selmar Aschheim dan Bernhard Zondek, menentukan bahwa ada hormon spesifik yang terdapat dalam urine ibu hamil yang tampaknya terkait dengan pertumbuhan ovarium, yang sekarang kita kenal sebagai human chorionic gonadotropin, atau hCG. 

Peneliti menemukan ini dengan menyuntikkan urine orang hamil ke dalam kelinci, tikus, dan mencit yang belum dewasa secara seksual, yang akan menginduksi perkembangan ovarium.

Sebagian besar waktu, urine orang hamil akan menghasilkan massa yang menonjol pada ovarium hewan, indikasi pasti adanya hCG. Maka, Tes Kelinci pun lahir.

Menurut jurnal medis kontemporer, cara kerjanya seperti ini: 

  • Sampel urine disuntikkan ke dalam sekelompok mencit betina muda selama lima hari. 
  • Pada hari kelima, mencit-mencit tersebut dibunuh dan diotopsi untuk memeriksa kondisi ovariumnya. Jika organ reproduksi mereka tampak terangsang, tesnya positif.
  • Jika seseorang menginginkan hasilnya dalam waktu kurang dari lima hari, mereka cukup menggunakan lebih banyak tikus.

Metode ini menggunakan banyak kelinci, tikus, dan mencit. 

8. Tes katak

Meskipun bekerja dengan prinsip yang sama seperti Tes Kelinci, yang satu ini sebenarnya sedikit lebih baik, setidaknya hewan tersebut tetap hidup pada akhirnya. 

Pada akhir tahun 1940-an, para ilmuwan telah menentukan bahwa ketika urine orang hamil disuntikkan ke dalam kodok atau katak hidup, amfibi malang itu akan menghasilkan telur dalam waktu 24 jam. Kodok atau katak itu selamat dan bisa menjalani hari berikutnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda