Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Waspada! Kasus Sifilis pada Ibu Hamil Terus Naik, Ini Penyebab & Cara Mencegahnya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 16 Feb 2026 18:50 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sedih
Waspada! Kasus Sifilis pada Ibu Hamil Terus Naik, Ini Penyebab & Cara Mencegahnya/ Foto: Getty Images/iStockphoto/globalmoments
Daftar Isi
Jakarta -

Kasus sifilis pada ibu hamil perlu mendapat perhatian masyarakat. Pasalnya, kasus ini terus meningkat dan dampaknya bisa menimbulkan masalah pada janin di dalam kandungan, bunda.

Di Indonesia, penyakit sifilis atau raja singa dilaporkan meningkat dalam kurun waktu lima tahun, yakni periode 2016 hingga 2022. Menurut ulasan di laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tahun 2023, dari lima juta kehamilan setiap tahunnya, hanya sebanyak 25 persen ibu hamil yang di skrining sifilis. Sementara itu, dari 1,2 juta ibu hamil, sebanyak 5.590 ibu hamil positif sifilis.

Kasus peningkatan sifilis pada ibu hamil juga dilaporkan naik di Amerika Serikat (AS), Bunda. Sebuah laporan di Januari 2026 dari National Center for Health Statistics (NCHS) menemukan bahwa tingkat infeksi sifilis pada ibu hamil meningkat 28 persen dari tahun 2022 hingga 2024. Dilansir laman Parents, peningkatan tersebut stabil selama dekade terakhir.

Sifilis maternal atau kondisi ketika seorang ibu hamil terinfeksi sifilis, dapat menjadi masalah serius. Hal ini karena infeksi dapat ditularkan dari ibu hamil kepada bayinya. Selain dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bagi bayi, infeksi sifilis juga bisa menimbulkan kematian.

Peningkatan angka kejadian sifilis ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya skrining dan pengobatan selama kehamilan. Direktur pengobatan maternal fetal di Stony Brook Medicine, David Garry, DO, mengatakan bahwa penyebab lainnya mungkin karena aktivitas seksual yang tidak aman.

"Angka kasus sifilis telah meningkat selama dekade terakhir, kemungkinan karena beberapa faktor, seperti aktivitas seksual yang lebih bebas, penggunaan kondom yang lebih sedikit, meningkatnya penggunaan narkoba di banyak komunitas, dan (fakta) bahwa sifilis dapat bersifat asimtomatik untuk jangka waktu yang lama, sehingga memungkinkan penularan tanpa disadari," kata Garry.

Apa itu sifilis pada ibu hamil?

Sifilis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Infeksi terjadi melalui kontak langsung dengan luka orang yang terinfeksi selama berhubungan seksual.

Seorang perempuan dapat terkena sifilis sebelum, selama, atau setelah kehamilan. Ketika seorang ibu hamil terkena sifilis, hal itu disebut sifilis maternal. Sementara, bayi yang tertular sifilis dari ibu hamil selama kehamilan disebut juga sifilis kongenital.

Seperti dijelaskan sebelumnya, sifilis dapat menular ke bayi dari ibu selama kehamilan. Sifilis dapat menular ke bayi Anda selama kehamilan. Penyakit ini juga dapat meningkatkan kemungkinan komplikasi selama kehamilan, seperti persalinan prematur atau keguguran.

"Selain masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi yang belum lahir, perempuan yang menderita sifilis selama kehamilan juga dapat mengembangkan gejala yang bergantung pada stadium infeksi sifilis," ujar dokter spesialis kebidanan dan ginekologi, Stacy A. Henigsman, DO, dikutip dari Healthline.

Hal yang sama juga diungkapkan dokter spesialis kedokteran ibu dan janin di Pediatrix Medical Group, Amber Samuel, MD. Menurutnya, sifilis pada ibu hamil dapat menyebabkan dampak serius, seperti stillbirth, keguguran, gangguan pertumbuhan, dan kelahiran prematur.

Infeksi bawaan dari penyakit ini juga dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian bayi baru lahir. Dalam beberapa kasus, infeksi sifilis dapat menimbulkan penyakit yang mengancam jiwa anak-anak.

"Anak-anak dapat menderita ruam, rinitis hemoragik (pilek), limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), hepatosplenomegali (pembengkakan hati), kelainan tulang, anemia, dan meningitis (infeksi jaringan otak)," ungkap Samuel.

Cara mengobati sifilis

Sifilis dapat diobati, Bunda. Pengobatan seperti antibiotik, yang diberikan sebelum atau selama kehamilan dapat mengurangi kemungkinan bayi tertular sifilis.

"Antibiotik adalah pengobatan utama (sebelum dan selama kehamilan) dan sangat efektif dalam mengurangi risiko bila pasien hamil mengidap infeksi tersebut," kata Samuel.

Selama kehamilan, Bunda dengan sifilis biasanya akan diberikan antibiotik dari jenis penisilin untuk mengobati infeksi. Obat seperti benzathine penicillin G merupakan satu-satunya pengobatan yang diketahui efektif untuk sifilis selama kehamilan dan pencegahan sifilis kongenital.

Penanganan sifilis bawaan pada bayi baru lahir juga serupa, Bunda. Menurut Academy of American Pediatrics (AAP), bayi yang lahir dengan sifilis bawaan akan segera menerima antibiotik.

Bayi kemudian akan dipantau dan diuji secara ketat untuk memastikan mereka tidak lagi terinfeksi. Jika infeksinya belum hilang, bayi baru lahir akan menerima pengobatan antibiotik lagi.

Cara mencegah sifilis pada ibu hamil

Sifilis juga dapat dicegah sebelum berdampak buruk pada kehamilan dan janin. Sebelum hamil, pasangan suami istri dapat mencegahnya dengan berhubungan seksual lebih aman.

"Menghindari kontak seksual tanpa perlindungan dengan pasangan yang mungkin mengidap sifilis adalah cara utama untuk menghindari penularan penyakit tersebut," ungkap Samuel.

Selain itu, Bunda juga disarankan untuk menjalani tes sifilis ketika sudah dinyatakan hamil. Skrining yang dapat dilakukan di trimester pertama dan ketiga ini bisa memastikan ada atau tidaknya infeksi.

Demikian serba-serbi sifilis pada ibu hamil, termasuk penyebab dan cara mencegahnya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda