Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Benarkah Kemoterapi Dapat Sebabkan Menopause Dini?

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 29 Jan 2026 08:50 WIB

Ilustrasi Sakit Minum Obat
Ilustrasi Menopause Dini Setelah Kemoterapi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Doucefleur
Daftar Isi
Jakarta -

Menopause merupakan suatu tahap kehidupan ketika Bunda tidak lagi dapat hamil. Rata-rata perempuan mengalami menopause secara alami di awal usia 50-an.

Tetapi, ada juga yang mengalami menopause lebih awal. Dilansir laman Cleveland Clinic, menopause dini (premature menopause) terjadi sebelum usia 40 tahun, sementara menopause awal (early menopause) terjadi sebelum usia 45 tahun.

Menopause awal terjadi pada sekitar 5 persen perempuan. Sedangkan, menopause dini atau prematur terjadi pada sekitar 1 persen perempuan. Gejala dari kedua kondisi tersebut mirip dengan menopause alami dan penyebabnya sering kali tidak diketahui, Bunda.

Kemoterapi bisa menyebabkan menopause dini

Salah satu faktor yang dikaitkan dengan menopause dini adalah tindakan kemoterapi. Prosedur medis merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan.

"Pengobatan kanker juga dapat menyebabkan menopause dimulai lebih awal," kata perawat praktisi onkologi dewasa, Dr. Faith Selchick, dikutip dari Healthline.

Kemoterapi menargetkan sel-sel yang tumbuh dan membelah dengan cepat. Ini berarti kemoterapi juga dapat membunuh sel-sel sehat, seperti sel-sel yang digunakan tubuh untuk menumbuhkan rambut.

Efek samping kemoterapi juga memengaruhi hormon dan organ reproduksi, termasuk ovarium. Kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh mungkin menjadi tidak seimbang karena kemoterapi bisa memengaruhi sistem endokrin.

"Kerusakan sel dan ketidakseimbangan hormon akibat kemoterapi dapat memicu gejala menopause dan bahkan dapat menyebabkan menstruasi berhenti," ujar Selchick.

"Jika perempuan berusia di atas 40 tahun saat memulai kemoterapi, maka kadar hormonnya mungkin sudah menurun. Jika demikian, kemoterapi dapat mempercepat proses menopause yang telah dimulai oleh tubuh," sambungnya.

Hal yang sama juga dijelaskan dalam laman Australasian Menopause Society (AMS). Menurut organisasi non-profit ini, kemoterapi dan radioterapi untuk kanker dapat menyebabkan hilangnya siklus menstruasi sementara atau permanen, yang dapat menyebabkan menopause dan infertilitas.

"Kemoterapi atau radioterapi dapat menyebabkan menopause dini karena pengobatan ini bersifat toksik bagi ovarium, terutama bila digunakan pada dosis tinggi untuk mengobati kanker. Hilangnya menstruasi setelah kemoterapi atau radioterapi dapat bersifat sementara atau permanen. Jika menstruasi kembali, itu tidak selalu berarti kesuburan juga kembali," tulis AMS.

Ilustrasi Kepanasan MenopauseIlustrasi Kepanasan karena Menopause/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Panadda Phiakhamen

Gejala menopause akibat kemoterapi

Gejala menopause akibat kemoterapi sangat mirip dengan menopause pada umumnya. Namun, gejala-gejala ini mungkin terasa lebih parah karena penurunan hormon terjadi dalam waktu yang sangat singkat, bukan secara bertahap.

Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Health and Quality of Life Outcomes menemukan, perempuan dengan menopause akibat kemoterapi mengalami lebih banyak hot flashes dan kelelahan dibandingkan mereka yang mengalami menopause tanpa kemoterapi.

Secara umum, berikut tanda-tanda dari menopause alami yang juga dapat terjadi akibat kemoterapi:

  • Gejala vasomotor, seperti hot flases (kegerahan) dan berkeringat saat malam hari
  • Perubahan siklus menstruasi
  • Iritabilitas, depresi, dan perubahan suasana hati
  • Kekeringan vagina dan nyeri saat berhubungan seks
  • Kerontokan rambut atau perubahan tekstur rambut
  • Infeksi saluran kemih
  • Penurunan gairah seks (libido)
  • Peningkatan berat badan

Penelitian tentang kanker payudara di Journal of the National Cancer Institute tahun 2018 menunjukkan bahwa menstruasi teratur mungkin akan kembali dalam waktu tiga tahun setelah Bunda menyelesaikan kemoterapi. Namun, hal ini mungkin bergantung pada faktor-faktor, seperti usia, jenis dan durasi pengobatan, pengobatan lain, dan kadar hormon sebelum kemoterapi.

"Orang yang menjalani kemoterapi dan kembali mengalami menstruasi mungkin mengalami menopause lebih awal daripada orang lain. Jika menstruasi kembali, mungkin itu akan berbeda dari sebelum kemoterapi," ungkap Selchick.

Cara mengatasi gejala menopause akibat kemoterapi

Mengelola gejala menopause akibat kemoterapi mirip dengan mengelola menopause yang terjadi secara alami. Namun, terapi hormon dan penstabil suasana hati tertentu mungkin tidak dianjurkan selama kemoterapi dan remisi kanker.

Dokter akan memberikan rekomendasi tentang cara mengatasi gejala menopause selama menjalani dan menyelesaikan pengobatan kanker. Beberapa caranya dengan memodifikasi gaya hidup, pemberian suplemen nutrisi, atau pemberian obat-obatan non-hormonal.

Demikian penjelasan pakar terkait kemoterapi dan menopause. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda