Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Hamil di Musim Dingin Bisa Picu Masalah Kesehatan Mental pada Bayi? Simak Faktanya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 20 Jan 2026 08:50 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Musim Dingin
Ilustrasi Ibu Hamil di Musim Dingin/ Foto: Getty Images/iStockphoto/LSOphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda pernah dengar musim saat bayi dilahirkan dapat memengaruhi kesehatan mentalnya di kemudian hari? Kaitan antara musim kelahiran dan kondisi bayi ini pernah diteliti oleh para ilmuwan.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Psychoneuroendocrinology tahun 2019 menunjukkan bahwa bayi yang lahir pada musim gugur dan musim dingin memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan kesehatan mental. Hal tersebut dikaitkan dengan kadar hormon kortisol yang lebih tinggi pada perempuan di akhir kehamilan.

Dilansir laman News Medical, studi ini menggunakan data dari kohort longitudinal Grown in Wales (GiW), dan melibatkan 316 perempuan Kaukasia yang tinggal di Wales Selatan. Subjek diminta untuk memberikan sampel air liur dan mengisi Skala Depresi Pascapersalinan Edinburgh dan subskala sifat dari State-Trait Anxiety Inventory (STAI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Studi lalu dimulai dengan menjelaskan Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD), yang menyatakan bahwa paparan lingkungan yang merugikan selama periode kritis perkembangan intrauterin dapat menyebabkan perubahan pada janin yang bertahan setelah lahir dan berdampak pada kesehatan individu yang ditentukan secara genetik. Perubahan-perubahan tersebut lalu meningkatkan risiko terkena penyakit di kemudian hari, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan kejiwaan.

Nah, perubahan musim juga dapat memicu kondisi seperti gangguan afektif musiman atau seasonal affective disorder (SAD), yakni jenis depresi yang sering memburuk selama musim dingin. Meskipun para peneliti tidak menemukan hubungan antara musim kelahiran bayi dan tingkat depresi atau kecemasan yang dialami ibu, mereka menemukan hubungan antara musim dan kadar kortisol saliva ibu.

Perubahan musim disebut dapat memengaruhi risiko kesehatan mental

Kortisol adalah hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, dan sering disebut sebagai hormon stres. Kondisi kehamilan bersamaan dengan kecanduan ibu pada alkohol, depresi, serta kondisi lingkungan dan kesehatan lainnya dapat meningkatkan jumlah kortisol dalam air liur.

"Data kami menunjukkan bahwa bayi yang lahir di musim gugur dan musim dingin terpapar pada tingkat yang sangat tinggi tepat sebelum mereka lahir," kata salah satu penulis studi, Profesor Rosalind John.

Data yang disertakan dalam penelitian menunjukkan bahwa kadar kortisol saliva tertinggi ditemukan pada bulan-bulan musim gugur dan musim dingin, dengan kadar kortisol menurun sebesar 0,05μg/dL dan 0,06μg/dL pada bulan-bulan musim semi dan musim panas.

"Rata-rata, perempuan yang melahirkan di musim gugur atau musim dingin memiliki kadar kortisol saliva 20 persen lebih tinggi tepat sebelum melahirkan dibandingkan mereka yang melahirkan di musim semi atau musim panas," ujar John.

"Karena kadar kortisol yang tinggi pada ibu hamil sebelumnya telah dikaitkan dengan risiko tinggi anak-anak mengembangkan gangguan kesehatan mental, temuan baru ini dapat menjelaskan mengapa gangguan ini lebih umum terjadi pada anak yang lahir selama bulan-bulan musim dingin."

Meski begitu, John mengatakan bahwa hasil tersebut tidak menjelaskan alasan mengapa perempuan yang melahirkan di musim dingin atau musim gugur memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi.

Temuan dari penelitian ini sangat kontras dengan studi sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2015. Dalam studi tersebut, kadar kortisol (diukur dengan sampel rambut, bukan sampel air liur) tertinggi ditemukan pada musim panas dan musim gugur, dan terendah pada musim dingin. Penting untuk dicatat bahwa kadar kortisol dalam rambut dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak memengaruhi konsentrasi kortisol dalam air liur.

Para penulis mengklaim bahwa terlepas dari perbedaan hasil studi, penelitian baru ini tetap penting. Pasalnya, kortisol saliva sensitif terhadap perubahan musiman yang terjadi, terutama di negara Inggris. Selain itu, hubungan yang peneliti temukan antara musim dan risiko depresi serta kecemasan dapat memberikan penjelasan untuk penelitian, yang menunjukkan bahwa musim kelahiran memengaruhi risiko mengembangkan kondisi lain di kemudian hari.

Perlu dicatat juga, studi ini memiliki keterbatasan karena tidak dilakukan pada banyak subjek ibu hamil. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada ibu yang direkrut untuk penelitian sebelum janji temu operasi caesar elektif , dan hasilnya mungkin tidak dapat diterapkan pada ibu yang melahirkan melalui metode alternatif. Selain itu, ibu hamil non-Kaukasia juga tidak dimasukkan dalam penelitian untuk meminimalkan faktor perancu etnis.

Apa itu seasonal affective disorder (SAD) saat hamil?

Dikutip dari laman The Daily Journal, seasonal affective disorder (SAD) biasanya ditandai dengan bentuk depresi yang terjadi secara musiman. Dalam penelitian modern, SAD dengan pola musim dingin lebih dikenal luas dan dapat berlangsung selama empat hingga lima bulan dalam setahun.

Secara umum, SAD dapat menyebabkan kesedihan yang terus-menerus, perasaan putus asa, kehilangan minat pada hobi dan aktivitas, perubahan pola tidur, dan kesulitan berkonsentrasi. Perubahan hormonal dan masalah kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya dapat memperkuat emosi ini.

"Depresi yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati selama kehamilan, termasuk SAD, dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan depresi pasca persalinan," kata dokter kandungan dan ginekolog, Dr. Anjali Rao.

Menurut National Institutes of Health (NIH), depresi pasca persalinan memengaruhi 10 hingga 15 persen perempuan, dengan 50 persen di antaranya hanya teramati dan tidak terdiagnosis.

Tips menjalani kehamilan saat musim dingin

Dokter kandungan memiliki beberapa rekomendasi untuk ibu hamil yang mengalami SAD, yakni dengan memprioritaskan intervensi alami. Berikut beberapa tips menjalani kehamilan saat musim dingin untuk menghindari dan mengatasi SAD:

  • Memprioritaskan paparan sinar matahari yang aman
  • Memiliki jadwal tidur yang konsisten (7-9 jam per hari)
  • Tetap aktif bergerak
  • Memiliki pola makan seimbang
  • Mempraktikkan perawatan diri, seperti melakukan relaksasi

Di musim dingin, ibu hamil juga dapat mengupayakan cara mengatur suhu tubuh dengan mengenakan pakaian tambahan lapisan tipis dan berpori yang mudah dilepas untuk menghindari kepanasan dan membuat tubuh tetap nyaman. Selain itu, jangan lupa untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan dan mendapatkan vaksin flu.

Demikian penjelasan terkait musim kelahiran dan pengaruhnya pada kondisi bayi. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda