Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Ilmuwan Klaim Bisa 'Meremajakan' Sel Telur Manusia untuk Sukseskan Promil via IVF

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Minggu, 18 Jan 2026 16:40 WIB

Abstract luminous DNA molecule. Doctor using tablet and check with analysis chromosome DNA genetic of human on virtual interface. Medicine. Medical science and biotechnology.
Ilmuwan Klaim Bisa 'Meremajakan' Sel Telur Manusia untuk Sukseskan Promil via IVF/Foto: Getty Images/iStockphoto/ipopba
Daftar Isi
Jakarta -

Pernahkah Bunda mendengar bahwa program hamil IVF memiliki tingkat keberhasilan yang bergantung pada kualitas sel telur dan usia sang ibu? Kini, ilmuwan mengungkap sebuah cara untuk memperbesar peluang keberhasilannya.

IVF (in vitro fertilization) merupakan sebuah prosedur medis yang dirancang sebagai solusi kesuburan. Dalam IVF, pembuahan sel telur oleh sperma terjadi di luar tubuh dan kemudian embrio yang terbentuk nanti dipindahkan ke rahim untuk tumbuh secara alami.

Nah, umumnya peluang tertinggi keberhasilan IVF terjadi pada perempuan yang berusia di bawah 35 tahun. Kromosom yang terkandung dalam sel telur tersebut cenderung memiliki kualitas prima yang membuat embrio dapat berkembang lebih optimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Tetapi, apakah program hamil IVF yang dijalani perempuan di atas 35 tahun tidak maksimal? Mungkin saja, Bunda. Sebab semakin bertambahnya usia, sel telur semakin banyak mengandung jumlah kromosom yang tidak normal, yang akan menghambat perkembangan embrio secara optimal.

Namun, tiada masalah tanpa solusi. Setiap perempuan tetap memiliki kesempatan untuk hamil, meskipun melalui bantuan atau program perawatan tertentu. Oleh karena itu, ilmuwan melakukan sebuah penemuan untuk meremajakan sel telur manusia untuk program IVF.

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini, Bunda.

Terobosan ilmuwan untuk meningkatkan keberhasilan IVF

Dilansir dari Made for Mums, beberapa ilmuwan dari Ovo Labs melakukan sebuah pengujian terhadap sejumlah wanita yang menjalani program hamil dengan IVF. Mereka terbagi dalam dua kelompok, yakni yang berusia di bawah 35 tahun dan yang berusia di atas 35 tahun.

Penelitian ini berfokus pada tahap penting dari fase perkembangan sel telur, yaitu meiosis. Meiosis merupakan proses pembelahan sel yang berperan dalam mengurangi jumlah kromosom menjadi setengah, sehingga sel telur bisa bergabung dengan sperma nantinya.

Sebelum dilakukan eksperimen, peneliti mengamati bahwa pada sel telur perempuan yang berusia di atas 35 tahun, pasangan kromosomnya bisa terlepas sebelum pembuahan, sehingga pemisahan kromosom selama meiosis menjadi tidak seimbang.

Akibatnya, besar kemungkinan embrio bisa saja mendapatkan terlalu banyak atau terlalu sedikit kromosom. Untuk mengatasi hal ini, para ilmuwan mencoba untuk memperbaiki pasangan kromosom tersebut dengan injeksi protein Shugoshin 1.

Hasil penemuan para ilmuwan dengan protein Shugoshin 1

Dalam percobaannya pada sel telur manusia yang telah disumbangkan, para peneliti menemukan bahwa menyuntikkan protein Shugoshin 1 ke dalam sel telur mampu mengembalikan pasangan kromosom yang terpisah sebelumnya.

Tim peneliti mencatat bahwa persentase sel telur yang memiliki cacat kromosom menurun dari 53 persen menjadi 39 persen, setelah diinjeksi dengan protein Shugoshin 1. Selain itu, 65 persen kecacatan kromosom pada perempuan di atas 35 tahun menurun menjadi 44 persen.

Direktur Institut Max Planck, Prof. Melina Schuh, mengatakan hasilnya menunjukkan hasil yang luar biasa terhadap kualitas sel telur. “Secara keseluruhan, penelitian itu menghasilkan peningkatan yang sangat menonjol, terutama bagi kecacatan kromosom,” tuturnya.

Menurutnya, penemuan ini menjadi sebuah terobosan dan motivasi bagi perempuan yang berusia 40-an, yang memiliki rencana untuk melakukan IVF di usianya yang tak lagi muda. Dipercaya protein tersebut pasti akan membawakan efek yang sangat besar.

Pesan dari para ilmuwan

Para ilmuwan menegaskan bahwa penemuan ini tidak ada pengaruhnya terkait kesuburan setelah menopause. Artinya, teknik ini tidak akan bekerja ketika cadangan sel telur telah habis.

Meskipun temuan ini merupakan sebuah kabar baik, penelitian lebih lanjut juga penting dilakukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjangnya. Selain itu, juga bagaimana langkah ini turut menghasilkan embrio dengan minim kesalahan genetik.

Demikian informasi ini disampaikan. Semoga bisa menambah pengetahuan para Bunda mengenai inovasi terbaru dalam prosedur medis IVF.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSc-okWTDzj2ZWIh3BNIRis8OTfk0O6_rvQzSmvXHNX3uyE3PA/viewform?pli=1

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda