kehamilan
Studi Ungkap Pengaruh Obat Diet dengan Kenaikan BB saat Hamil hingga Risikonya
HaiBunda
Jumat, 09 Jan 2026 15:20 WIB
Daftar Isi
Tahukah Bunda, obat diet seperti Ozempic, Wegovy, atau Mounjaro belakangan ini semakin sering dicari, lho. Obat-obat yang termasuk dalam golongan GLP-1 ini dikenal sangat ampuh untuk diet, sehingga banyak perempuan usia muda yang mulai menggunakannya.
Menjaga berat badan ideal sering kali menjadi perhatian banyak wanita. Tak sedikit wanita yang merasa lebih percaya diri, sehat, dan siap menjalani fase kehidupan selanjutnya setelah mencapai berat badan ideal. Akan tetapi, hal itu tak selalu mudah untuk dicapai.
Di tengah gaya hidup modern dan tuntutan kesehatan, solusi penurunan berat badan pun semakin variatif, salah satunya melalui bantuan obat-obatan. Dengan obat, biasanya diet akan lebih efektif, meski efek samping dan risikonya juga perlu dipertimbangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain untuk menurunkan berat badan, obat diet seperti GLP-1 pun bermanfaat untuk mengontrol gula darah. Namun, di balik manfaatnya, penelitian terbaru mengungkap adanya catatan penting bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan atau berpotensi hamil.
Apa saja catatan pentingnya? Yuk, simak penjelasan para ahli berikut ini, Bunda.
Apa itu obat GLP-1?
Dilansir dari India Today, GLP-1 adalah obat yang bekerja meniru hormon alami dalam tubuh. Obat ini berfungsi untuk mengatur nafsu makan, memperlambat pencernaan, serta membantu mengontrol kadar gula darah.
Pada awalnya, obat ini digunakan untuk penderita diabetes tipe 2, tetapi kini juga diresepkan secara luas untuk pengelolaan berat badan atau diet. Terbukti, GLP-1 membantu menurunkan berat badan secara signifikan pada banyak orang.
Namun, hal penting yang perlu Bunda ketahui adalah obat ini tidak dianjurkan untuk ibu hamil, sehingga umumnya akan dihentikan begitu seorang perempuan diketahui hamil. Penghentian mendadak inilah yang nantinya akan menjadi pemicu perubahan metabolisme di dalam tubuh Bunda.
Temuan penting dari studi terbaru mengenai obat diet GLP-1
Sebagian besar wanita di Amerika Serikat dilaporkan menghentikan penggunaan obat diet setelah mengetahui kabar kehamilannya. Dalam laporan di Journal of the American Medical Association, yang menganalisis hampir 150 ribu kehamilan di AS dalam rentang tahun 2016-2025.
Selain itu, diketahui bahwa sekitar 65 persen perempuan juga mengalami kenaikan berat badan berlebih saat hamil. Rata-rata kenaikannya bahkan hingga menyentuh angka 3,3 kg, lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakan obat tersebut.
Para peneliti pun mencatat risiko lain yang ikut meningkat, meliputi diabetes gestasional, gangguan tekanan darah selama kehamilan, dan kelahiran prematur. Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
Kaitan Penggunaan obat diet GLP-1 dengan kenaikan berat badan saat hamil
Para ahli menduga, saat obat diet dihentikan, tubuh perlu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Nafsu makan yang sebelumnya ditekan oleh obat bisa kembali meningkat, sementara di saat yang sama kehamilan secara alami juga memicu kenaikan berat badan.
Nah, kombinasi inilah yang akhirnya membuat kenaikan berat badan menjadi lebih sulit dikendalikan, Bunda. Jika tidak dipantau dengan baik, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko munculnya komplikasi selama masa kehamilan.
Seorang ahli diabetes, Dr. V. Mohan, menjelaskan bahwa kenaikan berat badan setelah menghentikan konsumsi obat diet sebenarnya cukup umum. Namun, ketika hal ini terjadi secara bersamaan dengan kehamilan, maka risikonya menjadi lebih kompleks.
“Penting bagi dokter dan perempuan usia subur untuk memahami langkah saat merencanakan kehamilan. Kenaikan berat badan setelah menghentikan obat GLP-1 memang umum, tetapi kehamilannya akan memerlukan perhatian tambahan,” ujar Dr. Mohan.
Peluang dan risiko penggunaan GLP-1
Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa penggunaan obat diet ini memiliki dua sisi, yakni sisi positif dan sisi negatif. Di mana selain memberikan manfaat, obat diet juga memiliki risiko yang tak bisa disepelekan. Berikut adalah peluang dan risiko yang bisa terjadi menurut para ahli.
Peluang
Penurunan berat badan akibat konsumsi obat diet dapat meningkatkan kesuburan, terutama pada perempuan dengan gangguan ovulasi. Bahkan menurut Ketua Endokrinologi dan Diabetes di Max Healthcare, Dr. Ambrish Mithal, GLP-1 bisa mengatasi masalah metabolisme yang dapat menghambat pembuahan, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS).
Risiko
Berikut di antaranya:
1. Kesuburan
Tak hanya soal kenaikan berat badan, studi lain dari Australia juga menyoroti risiko kehamilan yang tidak direncanakan pada Bunda pengguna obat diet ini.
Dilansir dari RACGP, penelitian yang melibatkan lebih dari 1,6 juta perempuan pada tahun 2011 dan 2022, ditemukan bahwa dari 18.010 wanita yang mulai menggunakan obat diet, hanya sekitar 21 persen yang melaporkan penggunaan kontrasepsi.
Tak hanya itu, sebanyak 2,2 persen perempuan juga diketahui mengalami kehamilan dalam waktu enam bulan setelah mulai mengonsumsi obat tersebut.
2. Efektivitas kontrasepsi
Lebih lanjut, dikatakan bahwa obat diet golongan GLP-1 dapat mengurangi efektivitas pil KB, terutama pada awal penggunaan. Hal tersebut dikarenakan obat ini memperlambat pengosongan lambung dan mempengaruhi penyerapan obat, Bunda.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar wanita usia subur yang menggunakan obat GLP-1 mempertimbangkan metode kontrasepsi alternatif. Tak kalah penting, Bunda dianjurkan untuk mendiskusikan pilihan kontrasepsi yang paling aman bersama dokter.
Jadi, meski penggunaan obat diet memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terdapat pula sisi positif yang menyertainya, salah satunya adalah peningkatan kesuburan pada wanita dengan gangguan ovulasi.
Hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan obat diet GLP-1
Para ahli sepakat bahwa obat diet golongan GLP-1 bukanlah obat yang semata-mata berbahaya, tetapi penggunaanya harus disertai perencanaan yang matang, terutama pada wanita usia subur. Jika Bunda sedang menjalani diet dengan GLP-1, maka penting untuk:
- Mendiskusikan rencana kehamilan dengan dokter sejak awal.
- Menggunakan kontrasepsi yang efektif selama menjalani diet dengan obat.
- Sesuai rekomendasi beberapa pedoman internasional, Bunda bisa menghentikan penggunaan obat setidaknya dua bulan sebelum mencoba hamil.
Dengan begitu, penelitian ini menjadi pengingat bahwa setiap pengobatan memiliki manfaat sekaligus risiko. Obat diet golongan GLP-1 memang membantu perempuan untuk menurunkan berat badan, tetapi perlu juga kesadaran akan dampaknya terhadap kesuburan dan kehamilan.
Demikian informasi yang bisa disampaikan. Semoga dapat menambah wawasan Bunda dalam memahami manfaat dan risiko penggunaan obat diet, khususnya bagi para Bunda yang sedang merencanakan kehamilan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Kaki Bengkak Ibu Hamil Normal atau Tanda Preeklamsia, Ini Bedanya
Kehamilan
Studi: Preeklamsia Terkait dengan Penyakit Ginjal
Kehamilan
Bobot Shandy Aulia Naik 3 Kg di Trimester Kedua, Apa Kata Dokter?
Kehamilan
Posisi Seks yang Memuaskan Saat Kehamilan Trimester 2
Kehamilan
Cerita Pippa Middleton Tetap Main Tenis di Trimester 2 Kehamilan
7 Foto
Kehamilan
Intip 7 Potret Baby Moon Siti Badriah di Bali, Seru Bareng Suami Bun
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Diet DASH, Bantu Mencegah dan Mengendalikan Hipertensi pada Ibu Hamil
4 Penyebab Bunda Tidak Menstruasi saat KB, Ketahui Cara Mengatasinya
Meghan Markle Ternyata Pernah Jalani Pengobatan Alternatif Ini saat Hamil, Untuk Apa?