kehamilan
Kisah Ibu Hamil Hadapi Persalinan Berisiko Tinggi Sendirian saat Sang Suami Pilih Liburan
HaiBunda
Rabu, 07 Jan 2026 10:50 WIB
Daftar Isi
Bunda, menjelang persalinan, kehadiran suami menjadi salah satu sumber dukungan yang paling penting. Kehadiran pasangan kerap membuat ibu hamil merasa lebih tenang, aman, dan terlindungi, sehingga dukungan emosional ibu hamil menjadi terpenuhi.
Sayangnya, tidak semua ibu hamil mendapatkan dukungan dan perlakuan seperti itu. Situasi memilukan justru dirasakan oleh seorang Bunda berusia 37 tahun, yang ditinggal suaminya berlibur saat kehamilannya terancam berisiko.
Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya kepedulian dan kepekaan terhadap pasangan, terutama di masa kehamilan. Simak kisah selengkapnya berikut ini, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Butuh dukungan untuk melewati persalinan yang sulit
Kisah ini menjadi sorotan dalam sebuah platform diskusi komunitas. Bunda tersebut bercerita bahwa usia pernikahannya sudah menginjak 18 tahun dan perjuangan mereka untuk menuju kehamilan tidaklah mudah dan sebentar.
Setelah bertahun-tahun berjuang dengan masalah kesuburan, ia akhirnya mengandung anak kembar di usia 39 tahun. Kabar bahagia ini datang bersamaan dengan sebuah tantangan besar, yang bahkan tidak terpikirkan olehnya.
Memasuki trimester tiga, kondisi kesehatannya mulai menurun. Ia mengalami pembengkakan parah dan didiagnosis menderita hipertensi yang meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayinya.
Menyadari situasi tersebut, ia meminta suaminya untuk menunda rencana perjalanan ke luar kota untuk menemui para saudaranya. Namun, permintaan itu tidak dipedulikan sang suami. Bahkan, suaminya tetap memesan tiket setelah ia didiagnosis komplikasi oleh dokter.
Keadaannya semakin memburuk hanya dalam 24 jam setelah suaminya berangkat. Tekanan darahnya tiba-tiba melonjak hingga mencapai angka 180/110. Kondisi semakin serius dan mengharuskan ia mendapatkan pemeriksaan intensif dan menghabiskan malam di ruang persalinan sendirian.
Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa dirinya terkena pre-eklampsia. Ia pun mengaku sangat tertekan dan cemas karena harus menghadapi ketakutan besar itu tanpa didampingi pasangan.Â
Hal yang membuatnya semakin kecewa adalah perilaku sang suami begitu tidak menunjukkan perasaan bersalah sama sekali. Suaminya pun tidak meminta maaf atas keputusan egoisnya untuk tetap bepergian di kala istri membutuhkan dukungannya.
Sebelumnya, Bunda ini telah memberikan alternatif lain jika suaminya ingin bertemu dengan saudara-saudaranya, yakni mengundang mereka untuk datang berkunjung. Namun, pilihan tersebut juga tidak dipertimbangkan.
Perasaan kecewa dan marah yang dialaminya tentu valid. Tidak hanya menyangkut soal perjalanan liburan saja, tetapi juga tentang rasa diabaikan di saat ia sangat membutuhkan bantuan dan perhatian.
Tips penting untuk pasangan dalam mendampingi persalinan
Dari kisah tersebut, kita bisa melihat betapa pentingnya peran pasangan dalam membersamai momen krusial selama persalinan. Terutama, ketika waktunya sudah semakin dekat, emosional Bunda tentu semakin rentan.
Oleh karena itu, para profesional di Baby Center membagikan beberapa hal yang harus dilakukan Ayah dalam mendampingi Bunda selama waktu persalinan sudah semakin dekat. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Bantu menghitung kontraksi dan siap sedia menunggu
Ayah bisa membantu Bunda untuk menghitungkan jarak antar kontraksi dan menunggunya hingga terasa teratur. Umumnya kontraksi yang teratur akan terasa lebih kuat dan muncul setiap 3-5 menit, disertai dengan pembukaan leher rahim.
2. Siapkan perlengkapanÂ
Sebagai pasangan, Ayah perlu siap menghadapi persalinan yak tak selalu sesuai dengan rencana dengan membawa perlengkapan pribadi agar bisa mendampingi Bunda dengan nyaman, meski harus tinggal lebih lama di rumah sakit.
Barang bawaan yang direkomendasikan untuk dibawa sebagai berikut:
- Satu atau dua pakaian ganti.
- Sepatu yang nyaman serta sepasang kaos kaki bersih.
- Sikat gigi, pasta gigi, dan deodoran.
- Obat-obatan yang dibutuhkan.
- Handphone dan charger untuk menjaga komunikasi.
- Beberapa makanan ringan.
3. Bantu tetap fokus dan rileks
Bantu Bunda dalam mengatur nafas, relaksasi wajah, atau sentuhan ringan seperti menggosok kaki saat kontraksi. Jika memungkinkan, ajak Bunda bergerak ringan, seperti berjalan sebentar atau duduk di kursi untuk mengalihkan rasa tidak nyaman.
4. Tanyakan perihal dukungan verbal yang diinginkan
Ayah bisa membicarakannya sejak jauh hari terkait dukungan verbal apa yang dibutuhkan Bunda selama persalinan. Terkadang, Bunda merasa tenang hanya dengan ungkapan terima kasih dan pengakuan atas perjuangannya.
Demikian kisah ini disampaikan. Kehadiran, empati, dan kepedulian sederhana dari pasangan dapat memberikan dampak besar bagi kondisi fisik dan emosional ibu hamil. Semoga melalui ini dapat dijadikan pelajaran besar untuk kita semua.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Curhat Ibu Hamil soal Nama Bayi Picu Pro-Kontra, Suami Ingin Beri Nama Mendiang Istri
Kehamilan
Kisah Perempuan Hindari Hukuman Penjara dengan Tiga Kali Hamil dalam 4 Tahun
Kehamilan
Kisah Bumil Rela Berbaring Sebulan di Posisi yang Sama Demi Selamatkan Janin
Kehamilan
6 Perawatan Setelah Melahirkan, Bantu Kencangkan Kulit Kendur
Kehamilan
7 Persiapan Melahirkan Normal Supaya Berjalan Lancar, Bunda Perlu Tahu
5 Foto
Kehamilan
2 Kali Keguguran, Intip 5 Potret Kebahagiaan Ashilla Zee Eks Blink Melahirkan Anak Pertama
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kabar Terbaru Bayi yang Lahir dari Ibu Mati Otak, Masih Dalam Pengawasan Medis
Rahasia di Balik Kelahiran William & Harry Menurut Putri Diana
Super Langka, Keluarga Ini Sambut Kelahiran Kembar Empat dari Kehamilan Alami